Mencari Teman

Cernak : Arumsyah Prembayun

Belakangan ini Bima merasa sedih, karena ia baru sadar kalau ia kesepian. Ia tidak mempunyai teman. Setiap pagi sampai siang, ia berada di sekolah dan malam harinya, ia di rumah. Kegiatannya berulang setiap hari, dari rumah, ke sekolah, kemudian pulang ke rumah lagi, begitu setiap hari. Terasa sangat membosankan. Bima teringat kata-kata ibu guru beberapa pekan yang lalu,
“Carilah teman sebanyak-banyaknya.”
Maka dari itu, Bima bertekad untuk mempunyai banyak teman. Siapa tahu hari-harinya akan lebih berwarna, tidak membosankan seperti biasanya.
Hari itu Bima mencoba mendekati Arimbi, anak yang paling dekat dengan tempat duduknya di kelas.
“Hai, Arimbi…” sapa Bima dengan senyum di wajahnya.
Namun Arimbi terlihat bingung, kemudian anak itu menjelaskan kalau namanya bukan Arimbi, tapi Arini. Bima pun meminta maaf dan mereka pun tertawa bersama. Kemudian mereka mengobrol tentang banyak hal, di antaranya, tentang kelinci Arini yang baru saja melahirkan lima anak kelinci berwarna putih.
“Aku ingin melihat anak-anak kelincimu,” kata Bima kepada Arini, ia penasaran ingin melihatnya.
“Oke, nanti ke rumahku saja,” ajak Arini dengan suara yang bersemangat.
Bima pun mengiyakan. Dan mereka mengobrol lagi sampai ada ibu guru datang.
Sepulang sekolah, Bima berlari ke rumah dan segera mengganti bajunya. Setelah makan, Bima berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke rumah Arini. Namun, setelah ia keluar rumah, ia bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian bergumam sendiri,
“Rumah Arini di mana ya?”
Bima pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Ketika pintu dibuka, di sana ada ibu yang sedang menyapu lantai. Lalu dengan wajah yang heran, ibu bertanya kepada Bima,
“Kok, balik lagi?”
”Bima lupa belum tanya alamatnya Arini,” pernyataan Bima itu membuat ibu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Keesokan harinya, di sekolah, Bima meghampiri Arini untuk bertanya di mana rumahnya. Arini memberitahu di mana alamat rumahnya kepada Bima. Setelah itu, pada waktu istirahat mereka pergi ke kantin barsama untuk membeli jajan dan juga mengobrol tentang kelinci-kelinci kecil yang baru saja dilahirkan. Kelinci-kelinci itu sangat lincah melompat ke sana kemari.
Seperti kemarin, pulang sekolah, Bima berlari ke rumah dan mengganti pakaian, kemudian makan siang bersama ibu. Selesai makan, ibu bertanya,
“Sudah tahu alamatnya Arini?” Bima menjawab bahwa ia sudah tahu dan perpamitan untuk ke sana.
Karena Bima jarang keluar rumah, ia pun sedikit bingung mencari rumah Arini. Namun ia ingat ibu guru pernah berkata,
“Malu bertanya sesat di jalan.” Artinya, jika ia tidak tahu jalan, Bima tidak boleh malu bertanya. Jika ia tidak bertanya, maka Bima akan tersesat. Oleh karena itu, ia bertanya pada seorang ibu yang ia temui di jalan.
”Permisi Bu, apakah Ibu tahu di mana rumah Arini?” tanya Bima dengan ramah.
”Kamu lurus saja ke sana, nanti ada perempatan, kamu belok kanan. Rumah Arini yang catnya berwama hijau,” kata ibu itu sambil menggerakkan tangannya menunjukkan jalan. Setelah itu, Bima pun berterima kasih dan mengikuti arah yang ditunjukkan ibu tadi. Dan akhirnya, Bima pun menemukan rumah Arini.
”Assalamu’alaikum,” Bima memberi salam kemudian mengetuk pintu berwarna hijau di depannya.
”Wa’alaikumsalam,” terdengar suara balasan dari belakang pintu. Pintu pun dibuka dan terlihat ada Arini di sana.
Arini mengajak Bima ke depan kandang kelincinya, dan bermain bersama dengan kelinci-kelinci itu seharian. Kelinci-kelinci itu benar-benar lincah seperti apa yang dikatakan oleh Arini.
Sore harinya, Bima pulang dan menceritakan kejadian di rumah Arini pada ibunya. Hari ini begitu menyenangkan untuk Bima. Itu semua karena ia sudah mempunyai teman.
”Punya teman itu menyenangkan,” kata Bima pada ibunya.
Dan keesokan harinya Bima berangkat sekolah dengan ceria. Bibirnya tersenyum dan menyanyikan lagu Balonku Ada Lima dengan semangat. Hari ini, ia berniat mencari teman lagi. Teman yang sangat banyak. Untuk menemani hari-harinya yang jelas akan sangat menyenangkan dengan adanya teman.

Tinggalkan Balasan

Back to Top