Lelaki Kurus dan Bunga Edelweis

Cerpen : Erdy Priharsono

Lelaki kurus paruh baya itu kembali mendaki gunung, setelah sekian tahun tidak melakukannya. Semangatnya masih menggelora, meski langkahnya tidak setegap dulu lagi. Nafasnya mulai terengah-engah, kendati baru mendaki separuh jalan.
Masih ingat belasan tahun lalu ketika masih aktif sebagai Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), lelaki itu dengan gagah dan penuh semangat selalu mendaki gunung setiap bulan. Baginya gunung adalah sumber semangat yang memompa gairah hidupnya.
Semangat itulah yang membuatnya mengejar cinta Dona, melalui sayembara. Sayembara? Ya, saat itu ada banyak pemuda yang jatuh cinta. Dona bingung memilih, siapa yang benar-benar tulus mencintainya?
Lalu digelar sayembara. Lelaki yang naksir Dona harus membawa bunga untuk membuktikan cintanya. Pria pertama membawa bunga indah nan mempesona.
“Ini bunga terbaik yang pernah aku lihat,” kata Dona.
Pria itu tersenyum lega. Tapi detik berikutnya raut wajah Dona berubah.
“Ah ternyata bunga ini cuma imitasi. Cintamu pasti juga palsu,” lanjut Dona.
Dona terus menyeleksi satu persatu pria dengan teliti. Sampai akhirnya lelaki kurus itu maju dengan membawa seikat bunga Edelweis putih bersih yang masih basah.
“Kamu petik sendiri bunga ini?” tanyanya.
“Ya aku petik dari puncak gunung,” jawab lelaki kurus itu.
“Ya syarat ikut sayembara ini harus memetik sendiri,” ucap Dona.
“Awetkah bunga ini?” tanya Dona lagi.
“Waktu yang akan membuktikan,” jawab lelaki kurus itu jujur. Ternyata Edelweis itu awet. Bahkan semakin kering semakin putih.
“Bunga ini abadi. Berarti cintamu juga abadi,” kata Dona tersenyum puas.
“Yang kuinginkan adalah cinta putih, tulus, nan abadi,” kata Dona.
Dona juga tahu untuk mendapatkan setangkai Edelweis dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan besar. Sebesar itulah cinta lelaki kurus itu terhadap Dona.
Dua tahun setelah lulus kuliah mereka menikah. Lelaki itu kerja keras dan menabung untuk membeli rumah sendiri. Akhirnya rumah kecil terbeli. Rumah yang akhirnya banyak berhiaskan bunga Edelweis. Tetapi kebahagiaan itu hanya sekejap.
Beberapa tahun kemudian mereka berpisah. Bukan karena perselingkuhan, tapi karena maut memisahkan. Dona pergi karena raganya tak kuat melawan lara. Hati lelaki itu remuk redam meratapi kepergian pujaan hatinya. Bertahun-tahun kesedihannya tak dapat diobati.
Gairah hidupnya kembali menyala ketika tanpa sengaja lelaki kurus itu bertemu Leli. Leli adik kelasnya yang sudah berpisah belasan tahun tiba-tiba muncul kembali di dalam kehidupannya. Keduanya lalu berbicara dan bercerita.
“Ah ternyata Leli janda,” gumannya senang.
Tak perlu menunggu lama, lelaki kurus itu segera ingin menjadikan Leli istrinya. Leli memang tidak secantik wanita yang dikenalnya. Bagi lelaki itu yang penting adalah hati dan tabiatnya.
“Zaman sekarang banyak wanita cantik bak Dewi Shinta, tetapi tabiatnya seperti Bathari Durga,” ucapnya.
Bagaimana kalau Leli menolak? Tetapi bukankah Leli mencari cinta sejati? Bukankah suami Leli terdahulu dicerainya karena tak memberinya cinta sejati?
“Leli, maukah kamu jadi istriku?” katanya sepenuh hati.
“Jujurkah ucapanmu?” tanya Leli.
“Ya tentu saja,” jawabnya.

“Kalau kamu mencintaiku, petikkan aku Edelweis, langsung dari gunung seperti dulu pernah kau lakukan untuk Dona. Say love with Edelweis,” kata Leli.
Karena cintanya yang besar, akhirnya lelaki kurus itu kembali mendaki gunung, hanya untuk mendapatkan setangkai bunga Edelweis. Pelan didakinya gunung yang belasan tahun lalu sering dilewatinya. Ia masih hapal jalurnya, dan ingat di mana Edelweis itu berada.
Sebelum tanjakan terakhir banyak tumbuh Edelweis. Dan kejauhan lelaki kurus itu melihat tanaman hijau berhiaskan titik putih di atasnya.
“Ah akhirnya dapat juga,” ucapnya setengah berlari mendekat. Tetapi setelah didekati, ternyata tanaman itu bukan Edelweis.
“Pasti sedikit lagi di atas sana,” ujarnya penuh harap. Tetapi ternyata tetap tidak ada Edelweis di sana. Hanya ada tunggak Edelweis yang sudah kering dan mati.
“Dulu di sini banyak Edelweis tumbuh subur,” ujarnya tertegun. Dicarinya lagi di lereng tebing curam. Tetapi Edelweis tetap tak ada.
Bunga Edelweis telah raib dari gunung. Apakah cinta tulus nan suci dan abadi juga sudah raib?
“Apakah cintaku kepada Leli tulus dan abadi? Atau hanya karena tertarik kepada harta Leli?” Lelaki kurus itu tak dapat menjawab. Langkahnya gontai menuruni gunung yang kian gersang, gundul, dan kian panas itu.
Lelaki kurus itu kembali pulang ke kota dengan tangan hampa. Ketika memasuki kota, ia terkesima. Dilihatnya banyak bunga Edelweis berjajar di toko bunga hias. Bunga itu telah dihias dan disepuh dengan berbagai aksesori, sehingga tampak lebih putih dan indah.
Masih bermakna cinta suci nan abadikah Edelweis di toko itu? Ia berpikir akan membeli satu ikat bunga itu, lalu diberikan kepada Leli.
“Tetapi bukankah Leli berpesan harus dipetik langsung dari gunung?” gumamnya.
Mendadak amarah lelaki kurus itu memuncak. Marah kepada orang-orang yang dengan serakah telah menebangi Edelweis di puncak gunung, lalu memperjualbelikannya di kota. Demi lembaran uang, bunga cinta suci nan abadi itu satu persatu harus menemuli ajalnya.
Senyatanya masih banyak orang mencari Edelweis. Edelweis sudah terpatri sebagai lambang cinta suci nan abadi. Banyak lelaki yang sudah memiliki istri atau pacar, berbondong-bondong membeli bunga Edelweis dan lalu memberikannya kepada wanita pujaan lain.
Edelweis tetap menjadi bunga lambang cinta suci. Tetapi sudah berubah menjadi lambang cinta suci palsu yang penuh kemunafi kan. Edelweis laris diperjualbelikan, seperti halnya cinta sekarang ini yang juga gampang diperjualbelikan pula untuk berbagai macam kepentingan.
“Bagaimana aku bisa membuktikan ketulusan cintaku sekarang?” tanya lelaki kurus itu tertegun. Lelaki itu lalu kembali naik gunung lagi. Tetapi bunga cinta suci nan tulus dan abadi itu memang benar-benar sudah tiada.

Tinggalkan Balasan

Back to Top