Janji Andi

Cernak : Puspita Dyah K

“Sayang, sudah belajar?” tanya Mama mengagetkan Andi yang sedang bermain Play Station (PS) di kamar.
“Belum Ma,” jawab Andi singkat sambil cengar-cengir. Mama menghela napas pelan.
“Trus kapan kamu mau belajar?”

“Nanti ya, Ma.”
”Sudah ya, PS-nya dimatikan dulu, besok sore bisa dilanjutkan bermainnya,” ucap Mama sambil mengelus rambut Andi dengan penuh kasih sayang.
“Malam ini anak Mama yang pintar ini belajar dulu ya.”
“Mama, Andi baru asyik bermain nih Ma, besok saja ya Ma belajarnya,” ucap Andi dengan santai.
“Lagian katanya ibu guru, besok itu kegiatannya hanya bersih-bersih kelas kok Ma.”
Mama hanya terdiam mendengar penjelasan anak semata wayangnya. Memang pintar sekali Andi dalam mencari alasan.
“Mama bingung sama kamu, sebelum dibelikan Papa PS kamu rajin sekali belajar, tapi sekarang, habis pulang sekolah kamu bermain, habis Maghrib malah bermain PS lagi,” kata Mama penuh kesedihan.
”Mama, besok itu hari bebas, jadi sekarang Andi absen dulu belajarnya. Ok Ma!”
”Tapi kan bulan depan kamu sudah mulai tes kenaikan kelas.”
”Tiap tahun kan Andi masuk 10 besar, Ma, di kelas, jadi Andi tidak perlu belajar lagi,” kata Andi sombong.
”Terserah kamulah Andi, tapi kalau besok kenaikan kelas kamu mendapat nilai merah, Mama akan menjual PS kamu,” ancam Mama sambil keluar dari kamar Andi. Andi tersenyum karena kali ini dia bisa berbohong.
Setelah ditinggal oleh Mama, Andi malah keterusan bermain sampai-sampai lupa waktu dan jarum jam telah menunjukkan pukul 21.00 malam. Ia pun ketiduran tanpa mematikan PS.
Keesokan harinya di kelas IV diadakan ulangan Matematika. Semua murid mengeluh termasuk Andi dan beberapa murid yang tadi malam belum belajar. Mereka belum siap menghadapi ulangan dadakan.
Andi sangat cemas dan tidak tahu jawaban soal-soal yang diberikan guru. Sebanyak 10 soal, yang ia jawab hanyalah tiga soal, itupun asal jawab saja.
Setengah jam kemudian jawaban harus dikumpulkan di meja guru. Ibu guru mengoreksi hasil ulangan. Dan tibalah ibu guru mengoreksi hasil ulangan Andi. Ibu guru terkejut karena nilai ulangan Andi mendapat nilai terendah.
”Andi, kenapa kamu bisa mendapat nilai merah?” tanya Ibu guru heran.
Andi pun terkejut tapi itu pun sebentar karena dia juga berpikiran kalau nilai ulangannya akan buruk.
”Apakah kemarin kamu tidak belajar?”
“Belajar kok Bu, setiap hari malah,” kata Andi berbohong.
”Benar?” tanya Ibu guru dengan keheranan. Tiba di rumah, papa dan mama langsung menyuruh Andi duduk di ruang tamu.
”Andi, tadi ibu guru telepon, katanya nilai kamu merosot ya?” tanya Papa.
”Papa akan menjual PS kamu,” kata Papa lagi.
”Papa, Andi mohon jangan jual ya. Andi ngaku deh kalau kemarin malam Andi tidak belajar,” kata Andi menangis.
”Papa tidak akan jual asalkan nilai kamu seterusnya baik dan mendapat peringkat,” pesan Papa tersenyum.
”Beneran Pa, Ma,” Andi mengusap air matanya.
“Andi janji sama Papa Mama, Andi akan belajar giat lagi.”
Papa dan Mama memeluk Andi dengan erat.
“Maafi n Andi ya Pa, Ma,” kata Andi.

Tinggalkan Balasan

Back to Top