Gelembung Cinta

Oleh : Dwi Destiana

Raka sedang menyiapkan segayung air dan beberapa sabun cuci di kamar mandi. Ia tuangkan air ke dalam botol kecil. Kemudian disiapkan sebuah wadah kecil beserta kawat yang telah dibentuk.
Hari ini Raka akan menunjukkan mainannya. Ia akan membuat gelembung dari sabun yang pernah diajarkan Bunda. Teman-temannya pasti sudah menunggu di taman bermain. Mereka semua sudah berjanji akan membawa mainan masing-masing dari rumah. Dan hari ini Raka akan membawa gelembung sabun miliknya.
Setelah berpamitan kepada bunda, ia bergegas menuju taman. Ia penasaran mainan apa yang akan dibawa teman-temannya. Belum sampai ia masuk melewati gerbang taman, tiba-tiba Raka terkejut. Sebuah mobil remote control bergerak cepat akan menabraknya. Raka panik. Hampir saja ia menjatuhkan air sabun miliknya.
“Hai Raka!” teriak Miko yang sudah lebih dulu tiba di taman.
“Hai teman!” teriak Raka.
Miko mengendalikan mobil remote control-nya. Dengan gesit, mainan itu menghampiri Miko. “Raka, kamu bawa mainan apa?” tanya Dimas yang juga membawa mainan robotnya.
“Teman-teman, lihat aku bawa air dan sabun. Aku bisa membuat gelembung yang sangat indah. Kalian mau lihat?” jawab Raka penuh semangat.
“Hahaha,” teman-teman Raka menertawainya.
“Yang benar saja Ka, masa kamu cuma bawa air dan sabun?” ucap Miko mengejeknya.
“Memang kenapa?” tanya Raka sedikit kecewa.
“Lihat, Miko membawa mobil-mobilannya, oleh-oleh Ayah Miko dari luar kota,” ucap Dimas.
“Memangnya kamu bawa apa Dim?” tanya raka.
“Ayahku membelikan robot bagus yang bisa berjalan,” ucap Dimas, sambil menyalakan robotnya yang bisa berjalan.
Teman-teman tertawa geli melihat Raka yang hanya membawa air dan sabun.
“Aku tidak mempunyai ayah seperti kalian,” ucap Raka sedih.
Teman-temannya segera menghentikan tawanya. Mereka baru ingat bahwa Ayah Raka sudah meninggal. Ia sekarang hanya tinggal dengan ibunya.
“Bundaku, hanya seorang tukang cuci. Bunda tidak bisa membelikanku mainan mahal. Tapi aku tetap sayang sama Bunda,” kata Raka yang hampir menangis.
Miko, Dimas dan teman-teman yang lain sedih mendengar cerita Raka. Mereka semua berjanji tidak akan lagi menghina mainannya.
“Ya sudah, ayo kita main bersama. Kalian boleh meminjam mainanku,” ajak Miko.
“Aku mau!” teriak Raka dan teman-teman yang lain.
“Raka, coba tunjukkan gelembung sabun buatanmu pada kami,” pinta Dimas.
“Boleh,” kata Raka.
Raka menuangkan sedikit air ke dalam wadah. Air dicampur dengan sabun, kemudian ia mengaduknya dengan kawat yang sudah berbentuk lingkaran di ujungnya.
“Lihat teman-teman, aku akan membuat gelembung yang sangat indah dan banyak!” seru Raka.
Raka mencelupkan kawat yang telah dibentuk ke dalam air sabun, kemudian meniupkannya ke arah teman-temannya.
“Fuuuh…”
Sesekali mereka bergantian, ada yang meniup dan ada yang mencoba menangkap.
Gelembung-gelembung warna-warni indah berterbangan terkena angin. Miko, Dimas dan teman-temannya berlarian menangkap gelembung-gelembung indah itu.
Raka dan kawan-kawannya bergembira dan bermain bersama meniup-niup gelembung, menerbangkannya dan berlarian penuh suka cita.
Hari itu Raka sangat senang. Raka dan teman-temannya memberi nama gelembung mereka dengan nama Gelembung Cinta. Ketika melihat gelembungnya, Raka semakin ingat bundanya. Dalam hati, Raka berkata, “Terima kasih Bunda.”

Tinggalkan Balasan

Back to Top