Hari Hari Terakhir Jaka Tarub

Oleh : Dadang Adi Murtono

Apa yang terjadi setelah Nawangwulan menemukan selendang terbangnya dan meninggalkan Jaka Tarub?” tanyamu. Dulu, sewaktu aku sekecil kau dan masih sulit tidur sebelum bapakku menuntaskan dongeng Jaka Tarub dan Nawangwulan, aku juga selalu mengucapkan pertanyaan yang sama denganmu. Tapi bapakku selalu menjawab, “Ceritanya selesai sampai di situ. Tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutannya. Dan sekarang, tidurlah.”
Barangkali perihal apa yang kemudian terjadi dengan Jaka Tarub memang bukanlah kisah yang penting. Atau malah, seluruh kisah itu bukanlah kisah yang penting. Itu hanyalah dongeng pengantar tidur. Dongeng itu tidak akan mengubah pekerjaan bapak yang buruh tani. Juga tidak akan membuat ibuku mampu membeli daster baru untuk menggantikan dasternya yang telah lusuh dan banyak tambalan. Tapi cerita tentang Jaka Tarub selalu terbawa sampai ke mimpiku. Lebih tepatnya, bagian akhir yang menjelaskan tentang apa yang terjadi setelah Nawangwulan menemukan selendang terbangnya yang disembunyikan Jaka Tarub di lumbung padi lalu terbang meninggalkan Jaka Tarub.
Dalam mimpiku itu, kulihat seorang perempuan cantik yang pastinya Nawangwulan mengepakkan selendang terbangnya serupa seekor cenderawasih elok yang terbang di ketinggian. Perempuan itu terbang kian tinggi. Kian tinggi lagi. Terbang menuju suatu tempat yang bukan berada di Bumi. Ia ingin meninggalkan Bumi. Barangkali karena ia merasa segala sesuatu yang ada di Bumi telah kotor. Telah dipenuhi dosa dan dusta. Barangkali ia berpikir semua hal yang ada di Bumi selicik Jaka Tarub yang berpura-pura baik menolongnya ketika ia kehilangan selendang terbangnya sewaktu mandi di sendang bersama enam bidadari lainnya. Nawangwulan memang pernah benar-benar jatuh cinta kepada lelaki penyabit rumput itu. Ia memang pernah menganggap bahwa Jaka Tarub jauh lebih baik dari enam bidadari saudarinya yang tega meninggalkannya pada waktu itu. Dan karena pikiran itulah, ia mau menikah dengan Jaka Tarub dan melupakan keinginan untuk kembali ke surga.
Namun apa yang kemudian didapatinya di lumbung padi Jaka Tarub membuat Nawangwulan begitu terpukul. Ternyata, Jaka Tarub lah yang mencuri selendang terbangnya. Ternyata Jaka Tarub telah merencanakan ini semua. Barangkali Nawangwulan kemudian bersyukur Jaka Tarub melanggar apa yang ia katakan sebelum ia pergi mencuci baju di sendang pada suatu pagi.
“Aku sedang menanak nasi. Apa pun yang terjadi, jangan membuka tutup periuk itu,” demikian Nawangwulan berpesan kepada Jaka Tarub. Namun lelaki itu memang lelaki yang bebal. Lelaki itu penasaran kenapa Nawangwulan melarangnya membuka tutup periuk. Lalu ia membuka tutup tersebut. Dan apa yang dilihatnya seakan menjelaskan sebuah hal yang selama ini mengherankannya. Jaka Tarub hanya mendapati sebutir beras dalam periuk itu. Ya, Nawangwulan hanya menanak sebutir beras!
Dan alangkah marahnya Nawang wulan mengetahui larangannya telah dilanggar oleh Jaka Tarub. “Bukankah aku telah melarangmu? Sebagai bidadari, aku memiliki tuah. Untuk mendapatkan sebakul penuh nasi, aku hanya perlu menanak sebutir beras. Itulah sebabnya persediaan berasmu di lumbung tidak pernah habis. Namun itu dengan syarat, tidak boleh ada yang mengetahuinya. Kini kau telah mengetahui hal itu. Dan itu berarti, tuahku telah lenyap. Maka mulai kini, aku mesti menanak setakeran beras untuk mendapat seperiuk nasi. Dan kau tahu apa artinya?”
“Ya. Beras di lumbung akan cepat habis. Dan kita tidak bisa lagi memiliki simpanan mengingat aku tidak punya sawah dan padi yang kudapatkan hanyalah bawon atau bayaran dalam bentuk padi dari orang-orang yang mempekerjakanku di sawah mereka. Aku minta maaf untuk itu. Sungguh, aku menyesal,” demikian Jaka Tarub berkata sambil menundukkan wajah.
Tapi sesal serupa apa pun, tidak akan bisa mengembalikan apa-apa yang telah terjadi ke kondisi sebelumnya. Dan pada suatu ketika, persediaan di lumbung kian menipis, dan Nawangwulan melihat selendang terbangnya di bawah tumpukan padi yang tinggal sedikit.
“Aku tidak akan kembali kepadamu!” Nawangwulan berteriak marah mengetahui hal tersebut. Tidak ia pedulikan tangisan Jaka Tarub yang memohon agar dia tidak pergi.
Bapakku bilang kalau Nawangwulan kembali ke surga. Namun dalam mimpiku itu, Nawangwulan pergi ke bulan. Barangkali Nawangwulan sudah lupa jalan kembali ke surga. Atau mungkin saja waktu itu sedang tidak gerimis dan tidak ada pelangi. Bukankah dulu ia turun dari surga untuk mandi di sendang bersama enam bidadari lainnya melewati pelangi yang melengkung itu dan enam bidadari itu kembali ke surga juga terbang melewati pelangi tersebut?
Di bawah, Jaka Tarub terus menangis. Ia masih berharap Nawangwulan mau memaafkannya dan kembali kepadanya. Namun tentu saja, Nawangwulan tidak lagi mendengar ratapannya. Dan ketika ia melihat Nawangwulan terbang menuju bulan, tiba-tiba saja ia mempunyai ide yang sepertinya sangat tidak masuk akal.
“Aku akan pergi ke bulan. Aku akan menunjukkan bahwa aku rela melakukan apa saja agar Nawangwulan mau memaafkanku dan kembali kepadaku,” Jaka Tarub bertekad.
Dan karena Jaka Tarub tidak memiliki sayap seperti burung-burung, tidak pula memiliki selendang terbang serupa Nawangwulan, maka ia memutuskan menebang seluruh pohon yang ada di kampungnya. Menyusunnya bertumpuk-tumpuk membentuk semacam titian panjang yang menjulang ke atas. Titian yang menghubungkan Bumi dengan bulan.
Maka ia mulai menebang pohon-pohon. Tidak ia pedulikan larangan orang-orang. Ia malah mengamuk dan mengancam akan membunuh orang-orang yang tidak mau mengijinkan ia menebang pohon-pohon di kampungnya. Begitulah berhari-hari, berbulan-bulan Jaka Tarub bekerja. Ia naik ke atas titian sambil membawa bilah kayu dan turun lagi untuk mengambil kayu yang lain. Jaka Tarub merasa ia sudah hampir bisa melompat ke bulan, barangkali kurang dua atau tiga batang kayu lagi ketika tiba-tiba angin besar datang. Angin besar yang merobohkan titian panjang yang ia bangun.
Titian itu rubuh dengan suara berdebum yang teramat keras ketika membentur tanah. Tubuh Jaka Tarub terempas dengan sedemikian kuat. Seharusnya, tubuh Jaka Tarub pecah dan ia langsung mati karena hempasan itu. Namun ajaibnya, tubuh Jaka Tarub tidak luka sedikit pun. Bahkan lecet-lecet pun tidak. Namun itu tidak berarti ia tidak merasa sakit. Hatinya yang sakit. Teramat sakit. Ia merasa segala usahanya sia-sia belaka.
“Apakah takdir memang tidak bisa dilawan? Apakah jodoh memang tidak bisa dipaksakan?” Jaka Tarub meratap. Terus meratap sambil memandang bulan yang terasa begitu jauh. Jauh lebih jauh dari biasanya.
Setelah kejadian itu, tidak ada lagi orang yang pernah melihat Jaka Tarub. Dan semenjak itu pula, setiap kali bulan sedang purnama, orang-orang mendengar suara burung yang teramat pilu, serupa suara ratapan. Tidak ada orang yang pernah melihat burung itu sebelumnya. Lalu orang-orang menamai burung itu pungguk. Dan semenjak saat itu pula, ada pepatah yang berbunyi bagai pungguk merindukan bulan.
***
“Apakah itu berarti Jaka Tarub berubah menjadi pungguk?” kau kembali bertanya.
Aku hanya tersenyum. Dan celakanya, kau adalah anak yang selalu bertanya. Selalu penasaran. Kukira kau akan segera tidur setelah aku menceritakan mimpi masa kecilku itu. Namun tidak. Kau malah kembali bertanya dengan pertanyaan lain yang sulit bagiku untuk menjelaskannya.
“Kenapa kau tidak membangun titian panjang untuk membawa ibu pulang? Aku rindu ibu. Apakah kau tidak merindukan ibu?” tanyamu.
Bagaimana aku menjelaskan kalau ibumu pergi bersama lelaki lain yang lebih kaya dariku? Dan aku tidak tahu ke mana ia pergi. Maka beginilah yang bisa kukatakan, “Aku bukan Jaka Tarub. Sekarang, tidurlah. Hari sudah malam dan besok kau mesti sekolah. ”
***
“Semalam aku bermimpi. Dan dalam mimpiku itu, Ayah, aku lihat kau berubah menjadi pungguk yang meratap!” itulah yang kauucapkan kali pertama ketika kau bangun pagi keesokan harinya. Ah.

Tinggalkan Balasan

Back to Top