Rian dan Kue Lapis

Cernak : Niken Pratiwi

“Rian cepat bangun sudah pagi, cepat mandi nanti terlambat!” kata ibu
membangunkan Rian untuk segera bersiap-siap berangkat ke sekolah. Dengan mata yang masih mengantuk Rian bangun dan menuju kamar mandi untuk segera mandi. Dengan menahan dingin, Rian mandi dan bersiap-siap tak lupa sarapan pagi lalu ibu menyiapkan kue lapis untuk sekalian di antar ke penjual di pasar dan warung-warung.
Rian anak pertama masih mempunyai adik yang masih berusia dua tahun, ibu Rian membuat kue lapis yang dititipkan di pasar dan juga warung-warung tak jarang ibu Rian mendapat pesanan banyak kue lapis dari tetangga untuk dikonsumsi sendiri atau untuk snack suatu acara, ayah Rian yang bekerja di peternakannya sendiri tak bisa setiap hari mengantar kue yang di buat ibu ke pasar dan warung-warung. Sehingga setiap berangkat sekolah Rian sekalian membawa kue lapis ke pasar dan warung-warung yang sudah menjadi langganan.
Setiap hari rutinitas itu dijalani Rian, dulu waktu kali pertama Rian malu membantu ibunya mengantar kue lapis ke pasar dan warung-warung tapi ibu selalu berkata,
“Selama kita tidak mencuri dan jujur kenapa harus malu?” tapi tetap saja Rian malu ketahuan teman-teman sekolahnya karena nanti pasti diejek di sekolah. Satu bulan rutinitas itu dilakukan Rian lambat laun rasa malu itu mulai luntur tapi Rian selalu waspada agar teman-teman tidak melihatnya saat mengantar kue lapis, sering penjual langganan kue lapis buatan ibunya Rian selalu memuji Rian,
“Kamu hebat tidak malu mengantar kue lapis buatan Ibu kamu, padahal anak-anak seusia kamu pasti malu.” Setiap mendengar pujian itu Rian hanya tersenyum dalam hatinya berkata,
“Sebenarnya malu kalau nanti ketahuan teman-teman.”
Lambat laun akhirnya teman-teman sekolah tahu setiap pagi Rian mengantar kue lapis ke pasar juga warung-warung dan akhirnya ketakutan Rian terjadi, ada salah satu teman yang melihat Rian mengantar kue lapis di pasar dan warung-warung dan akhirnya setiap di sekolah Rian selalu diejek teman-temannya, sampai terkadang berantem hingga Pak Guru selalu melerainya. Setiap Pak Guru bertanya alasannya berantem Rian selalu memberi jawaban sama yaitu,
“Diejek karena setiap pagi mengantar kue lapis ke pasar dan warung-warung.” Akhirnya Pak Guru memberi nasihat pada Rian,
“Kamu tak perlu malu, belum tentu teman-teman kamu bisa melakukan apa yang kamu lakukan, mengantar kue lapis bukanlah suatu tindakan buruk. Kamu setidaknya sudah membantu meringankan beban Ibu kamu, kamu juga sudah dilatih disiplin oleh Ibu kamu, keberanian dan kejujuran itu semua adalah praktek dari ilmu yang kamu dapatkan di sekolah.”
Rian hanya diam saja dan menundukkan kepala tak berani menatap pak guru yang telah memberi nasihat lalu Rian disuruh kembali ke kelas dan diingatkan agar tidak berantem lagi karena persoalan yang sama.
Setelah mendapat nasihat dari pak guru, dua hari Rian tak mau sekolah. Ibu merasa cemas lalu ibu bertanya pada Rian.
”Kenapa kamu tidak sekolah? Apa malu karena setiap pagi Ibu minta tolong kamu untuk mengantar kue lapis?” tanya ibu. Rian hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan ibu.
Lalu ibu memberi nasihat,
“Mungkin kamu sekarang malu tapi sebenarnya kamu sudah belajar banyak hal dari mengantar kue lapis setiap pagi. Kamu belajar bangun pagi, belajar jujur, belajar bersosialisasi dengan banyak orang dan tidak boros lagi. Buktinya sekarang kamu sudah mulai punya tabungan walaupun hanya dalam celengan plastik.”
Lalu Rian mengangkat kepala dan meminta maaf pada Ibu.
“Maafkan Rian. Rian malu sama teman-teman karena selalu diejek mereka.”
Ibu lalu tersenyum pada Rian dan segera meminta Rian untuk segera tidur biar besok tidak terlambat berangkat sekolahnya.
Pagi itu Rian bangun pagi dan segera mandi. Ibu yang melihat Rian lalu tersenyum dalam hati berkata,
“Ternyata Rian mau kembali sekolah.”
Lalu Rian sarapan dan sebelum berangkat dia menghampiri ibu yang masih menata kue lapis kemudian Rian berkata,
“Mana kue yang mau diantar ke pasar dan warung Bu?”
Ibu terkejut, ternyata Rian masih mau juga mengantar kue lapis lagi. Lalu ibu memasukkan kue lapis yang sudah dalam kardus ke dalam plastik dan memberikan ke Rian sambil berkata,
“Hati-hati di jalan.”
Pak guru melihat Rian sudah mau kembali ke sekolah merasa senang. Sebelum pelajaran dimulai pak guru berkata kepada semua murid-muridnya,
“Anak-anak, sebagai seorang anak kita harus membantu orangtua untuk mengurangi beban, dari hal yang kecil seperti menyapu, mencuci piring, merapikan tempat tidur ataupun membantu apa yang diperintahkan orangtua. Orangtua meminta bantuan pada kalian karena orangtua kita tahu bahwa kalian bisa melakukannya. Contohnya seperti Rian yang membantu ibunya mengantar kue lapis ke pasar dan warung. Bukan hal yang mudah karena Rian harus bangun pagi agar tidak terlambat sampai sekolah.”
Semua murid terdiam lalu pak guru melanjutkan bicaranya,
“Siapa yang kemarin mengejek Rian?” pak guru bertanya tapi semua murid hanya diam. Kemudian pak guru berkata,
“Kalian yang kemarin mengejek Rian harusnya malu karena ternyata Rian sudah membuktikan dari pelajaran membantu sesama dan melakukan tindakan baik dengan tidak malu mengantar kue lapis ke pasar dan warung-warung.”
Lalu Angga, teman Rian yang merasa paling sering mengejek Rian menghampiri dan meminta maaf, lalu teman-teman yang lain mengikutinya dan berjanji tidak akan mengejek lagi.
Pak guru senang melihat keberanian Angga yang mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Ternyata dari hal sederhana bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi semua murid-murid.
Esok harinya ibu membawakan kue lapis untuk diberikan kepada teman-teman Rian. Sesampai di sekolah, Rian membagi kue lapis buatan ibunya kepada teman-temannya dan akhirnya semua kembali bermain bersama tanpa ada yang saling mengejek. Dan Rian pun sekarang tidak perlu malu setiap kali teman-temannya melihat Rian mengantar kue lapis di pasar dan warung-warung.

Tinggalkan Balasan

Back to Top