Pawai Bedug

Oleh : Erna Ummi Salamah

”Didin, nanti malam ikutpawai bedug, yuk!” kata Hasan sembari menghampiri Didin yang sedang memakai sandalnya. Mereka baru saja bubaran dari berbuka puasa bersama dan salat Maghrib berjamaah di masjid.
“Pawai bedug apaan, San?” tanya Didin kepada Hasan, sahabatnya. Ia belum paham.
“Yaa, berkeliling kampung dengan menabuh bedug untuk membangunkan warga yang ingin makan sahur,” jelas Hasan.
“Loh, memangnya kita boleh ikutan, ya? Kita kan baru kelas dua SD. Bukannya pawai bedug khusus untuk orang-orang dewasa?” tanya Didin.
“Kata siapa? Aku kemarin lihat banyak anak-anak seumuran kita yang ikut pawai bedug. Berarti kita juga boleh, dong,” jawab Hasan.
“Oke! Tapi aku bisa bangun tidak yah, nanti malam?” tanya Didin pada dirinya sendiri.
“Pasang jam weker saja, Din! Setel jam 02.00 WIB,” Hasan mencoba memberi saran kepada Didin.
“Hmm, iya ya, boleh juga. Oke! Tunggu aku nanti malam ya,” kata Didin akhirnya.
Kedua sahabat itu pun berpisah, dan pulang ke rumah masing-masing. Hasan dan Didin sudah merencanakan persiapan untuk bangun lebih awal. Sesampai di rumah, Didin langsung meminta izin kepada ibunya untuk mengikuti pawai bedug. Ibu Didin setuju dengan keinginan Didin. Ibu menyarankan supaya Didin tidur pukul 21.00 WIB, sehingga bisa bangun lebih awal dan bisa bergabung dengan teman-teman dalam pawai bedug. Setelah tadarus Alquran, Didin langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia ingin segera tidur, supaya bisa bangun lebih awal. Tapi sayang sekali. Ternyata Didin sangat sulit memejamkan mata. Ia pun mengambil komik kesukaannya. Komik tentang serial Detektif Conan Edogawa. Mungkin saja dengan membaca, ia bisa tidur. Didin teringat dengan jam weker yang belum ia siapkan. Tetapi Didin sangat malas sekali bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil jam weker.
“Ah nanti sajalah, kalau sudah mengantuk,” gumamnya dalam hati. Jam menunjukan pukul 23.00. Ternyata Didin terlalu asyik membaca komik. Sehingga tak terasa hari sudah larut malam. Mata Didin juga sudah terasa pedas. Akhirnya ia pun tidur dengan pulasnya.
****
“Didin.. Didin.. bangun, Nak!
Sudah jam setengah empat tuh. Keburu azan Subuh, Nak. Ayo, sahur!” samar-samar terdengar suara ibu memanggil nama Didin. Didin tersentak dan bangun dari tidurnya. Ternyata ia bangun kesiangan. Didin teringat dengan janjinya kepada Hasan untuk bergabung dalam pawai bedug. Ia sangat menyesal sekali tidak memasang jam weker tadi malam. Didin pun menikmati makanan sahurnya dengan hati yang sangat sedih.
Di siang harinya, Didin bertemu dengan Hasan. Didin meminta maaf kepada Hasan karena tadi malam ia bangun kesiangan. Sehingga tertinggal pawai bedug.
“Tidak apa-apa, Din. Nanti malam masih bisa ikut pawai lagi, kok. Yang penting, kamu jangan lupa pasang jam weker loh, ya,” pesan Hasan kepada Didin.
“Sip deh, San. Aku sudah kapok menunda-nunda yang seharusnya aku lakukan. Akhirnya aku sendiri yang rugi,” kata Didin sambil berjanji pada dirinya sendiri.
Sepanjang hari itu, Didin mengingat-ingat terus tentang jam weker. Ia tak boleh meremehkan jam weker. Karena jam wekerlah yang bisa membangunkannya dari tidur.
Malam pun tiba. Didin langsung mengambil jam weker di samping bantalnya, supaya ia terbangun ketika jam berdering.
Benar saja, jam berdering pada pukul 02.00 WIB dini hari. Dengan sigap Didin bangun dari tidurnya. Setelah membasuh muka, Didin keluar rumah. Namun Hasan belum keliatan. Sesaat kemudian datanglah Hasan dan beberapa anak lain.
“Ayo Din! Kita ambil bedug di masjid,” kata Hasan kepada Didin. Didin pun langsung bergabung dengan rombongan tersebut menuju masjid. Ternyata di masjid sudah ada beberapa orang dewasa. Pawai bedug pun dimulai.
“Sahuur.. sahur… dug… dug… dug… Sahuur.. sahuur.. dug… dug… dug… dug…” Dengan riang para peserta pawai bedug meneriakan kalimat untuk membangunkan sahur. Mereka juga menabuh bedug dan segala sesuatunya yang bisa berbunyi untuk memeriahkan pawai. Tabuhan bedug akan membuat masyarakat bangun dari tidur mereka. Satu setengah jam mereka mengelilingi kampung sekitar. Setelah itu para peserta pawai berpencar untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka harus makan sahur.
Setiba di rumah, Didin langsung menuju meja makan. Di sana sudah ada bapak dan Kak Ani. Mereka sudah bangun rupanya. Hidangan sahur pun sudah tertata di meja. Menu makan sahur hari ini adalah rendang. Didin suka sekali. Dengan lahap ia pun menghabiskan makan sahurnya. Ia masih merasa riang karena telah mengikuti pawai bedug. Ia berniat besok malam ia akan bergabung lagi dengan pawai bedug untuk membangunkan warga.

Tinggalkan Balasan

Back to Top