Mukena Untuk Ibu

Cernak : Titik

Sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri tiba, sehabis Salat Tarawih, mata Ani tak bisa dipejamkan juga. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Pikirannya melayang memikirkan mukena ibunya yang sudah lusuh. Ani ingat betul, Lebaran tahun lalu ketika Salat Idul Fitri di tanah lapang, mukena ibunya paling lusuh. Mukena itu sudah dipakai ibu bertahun-tahun, bahkan sudah ada beberapa tambal sulam karena robek.
Ani ingin sekali membelikan mukena baru untuk ibunya, tapi uang dari mana? Tabungannya tak mungkin cukup untuk membeli sebuah mukena baru. Selama ini, ibunya adalah tulang punggung keluarga, ayahnya telah meninggalkannya sejak beberapa tahun yang lalu. Kini, ia tinggal bersama ibu dan Arman, adiknya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD. Untuk menyambung hidup Ibunya bekerja sebagai buruh tani, menjual keringat dan tenaga demi menghidupi kedua anaknya.
”Ani…Ani… bangun Nak, sudah waktunya sahur,” terdengar suara ketukan pintu disertai teriakan ibunya dari luar kamar.
”Iya Bu,” jawab Ani sambil bangun dan buru-buru membuka pintu.
Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 WIB, sampai di dapur, ibunya sedang menggoreng ayam kesukaan Arman.”Ibu, hari ini dapat rejeki lebih ya?” tanya Ani kepada ibunya.
”Hari ini, Ibu dapat rejeki lebih Nak, jadi Ibu membeli daging ayam untuk sahur kita hari ini,” kata Ibunya sambil menahan haru.
Pagi-pagi sekali, setelah memompa sepedanya, Ani berangkat ke sekolah sambil memboncengkan adiknya. Sampai di sebuah toko di pinggir jalan, Ani menghentikan laju sepedanya.
”Lho Kak…kenapa kita berhenti di sini?” tanya Arman kebingungan.
”Lihat itu Dik… mukena yang dipajang itu bagus sekali bukan?” kata Ani sambil menunjuk jarinya ke arah mukena yang dipajang itu.
”Wah… iya Kak, bagus sekali,” jawab Arman takjub.
“Kalau saja uang tabungan Kakak cukup, Kakak akan membeli mukena itu untuk Ibu,” kata Ani sambil mengayuh sepedanya. Diam-diam ternyata Arman masih memerhatikan mukena yang dipajang itu.
Malam hari, setelah Salat Tarawih, tiba-tiba Arman masuk ke kamar kakaknya Asambil membawa potongan bambu.
”Dik, bawa apa itu? Kok malam-malam bawa bambu, buat memukul maling ya?” tanya Ani heran.
”Kak, ini celengan Arman, sisa uang saku Arman selama ini, kalau uang tabungan Kakak ditambah dengan uang tabunganku, kira-kira sudah cukup untuk membeli mukena baru belum ya Kak?”
”Maksudmu?”
”Arman tahu Kak, mukena Ibu sudah lusuh, dan Arman tahu, Kakak ingin banget beli mukena untuk Ibu, makanya Arman mau iuran sama Kakak.”
Kakak beradik itupun sepakat membuka celengannya masing-masing. Setelah dihitung-hitung, uang yang terkumpul Rp85.000.
Hari Minggu pagi, Ani meminta izin kepada ibunya untuk bersepeda bersama adiknya. Setelah mendapat izin, Ani dan Arman segera mengayuh sepedanya. Sepeda itu berhenti tepat di depan toko mukena. Setelah memarkir sepedanya, Ani dan Arman pun masuk ke toko itu.
”Selamat pagi Dik… ada yang bisa kami bantu?” kata pelayan toko itu dengan ramah.
Ani dan Arman pun menggangguk. ”Kak saya ingin membeli mukena itu, kira-kira harganya berapa ya?” tanya Ani kepada pelayan toko.
”Oh… itu harganya Rp75.000 Dik.”
”Hem… saya ingin beli mukena itu Kak, tolong dibungkus ya?”
Pelayan toko segera membungkus mukena yang dibeli Ani dan Arman. Setelah membayar mukena, Ani dan Arman pun pulang dengan perasaan bahagia.
Hari Raya Idul Fitri tinggal sehari lagi. Ibu, Ani dan Arman terlihat asyik di dapur. Rupanya mereka tengah asyik memasak hidangan hari raya. Seperti tahun-tahun kemarin, ibu tak lupa membuat ketupat dan opor ayam.
Menjelang Maghrib semua masakan sudah terhidang di meja makan. Ibu, Ani, dan Arman menunggu bedug Maghrib sambil ngobrol bersama.
”Nak… besok sudah Lebaran, kali ini Ibu tidak bisa membelikan baju yang mahal untuk kalian, Ibu hanya mampu membelikan ini buat kalian berdua,” kata Ibu sambil mengangsurkan bingkisan kepada kedua anaknya.
”Apa ini Bu?” tanya Ani dan Arman hampir bersamaan.
”Buka saja Nak,” perintah Ibunya. Mereka berdua langsung membu-kanya, ternyata isinya baju baru. Tanpa menunggu lama, Ani pun langsung berlari menuju kamarnya. Tak lama kemudian ia pun kembali ke meja makan sambil membawa bingkisan.
”Ibu… ini bingkisan buat Ibu, ini dari kami berdua, silakan Ibu buka!” kata Ani kepada Ibunya.
”Apa ini Nak?”

”Buka saja Bu!”
Setelah dibuka, ternyata isinya sebuah mukena baru yang sangat indah.
”Kali ini mukena Ibu sudah tidak lusuh lagi, tolong besok dipakai ya Bu!” kata Ani dan Arman hampir bersamaan.
”Terima kasih ya, Nak, tapi ngomong-ngomong kalian dapat uang dari mana untuk membeli mukena seindah ini?”
”Itu dari hasil tabungan kami berdua, Bu.”
”Masya Allah… terima kasih anakku,”kata Ibu sambil memeluk Ani dan Arman.
Ani dan Arman bahagia bisa membelikan mukena baru untuk ibunya.

Tinggalkan Balasan

Back to Top