Ketupat Kebersamaan

Oleh : Asri Oktaviani Putri

”Ma, menu makan malam hari ini apa?” tanya Yusuf.
”Ketupat, Nak,” jawab Mama.
“Yah, ketupat lagi,” kata Yusuf sambil makan dengan cemberut.
Sudah tiga hari berturut-turut Yusuf makan dengan menu yang sama. Tak peduli sarapan, makan siang, makan malam, menunya sama, ketupat. Sampai-sampai Yusuf bosan memakannya.
”Kenapa, Nak?” tanya Mama melihat anaknya makan dengan tidak bersemangat.
”Makan malamnya ketupat lagi. Yusuf bosan, Ma,” Yusuf mengaduk-aduk ketupatnya dengan tidak berselera.
”Sabar, ya, Nak,” kata Mama. ”Karena kita dapat kiriman banyak ketupat dari saudara, tidak baik kalau kita tidak memakannya. Yusuf harus bersyukur, setidaknya kita masih bisa makan dengan cukup. Mungkin ada di antara teman-teman Yusuf yang tidak mampu makan ketupat seperti kita.” Yusuf mengangguk.
Hari itu ada upacara di sekolah. Yusuf dan teman-temannya mengikuti upacara itu dengan khidmat. Tiba-tiba salah seorang teman Yusuf pingsan. Rupanya ia belum sarapan pagi itu. Karena tidak enak badan, Toni, teman Yusuf yang pingsan itu diizinkan pulang lebih awal.
Yusuf menawarkan diri untuk mengantar Toni pulang ke rumahnya. Kebetulan, Pak Slamet, sopir yang selalu mengantar Yusuf ke sekolah, masih berada di depan sekolah.
”Pak, antar kami ke rumah Toni, ya,” ujarnya. Pak Slamet pun mengemudikan mobil menuju ke rumah Toni.
Tiba di rumah Toni, Yusuf tertegun melihat rumah Toni yang begitu sederhana. Lebih terkejut lagi karena rumah kecil itu ditempati oleh banyak orang, sehingga terkesan sempit.
Toni adalah anak sulung. Dia memiliki tiga adik yang masih kecil-kecil. Keluarganya tergolong ekonomi yang pas-pasan. Melihat Toni dan adik-adiknya yang kurus, Yusuf merasa iba.
Setelah mengantar Toni, Yusuf pun kembali ke sekolah untuk mengikuti pelajaran.
***

Keesokan harinya, Yusuf  bertemu dengan Toni di pasar. Kebetulan waktu itu, Yusuf sedang membeli ikan laut pesanan mamanya. Yusuf senang, akhirnya malam ini mama tidak memasak ketupat lagi. Kata mama, biar ada selingan dan biar Yusuf tidak bosan. Yusuf melihat Toni sedang membeli ketupat.
”Hei, Toni,” sapa Yusuf.

”Ah, kau, Yusuf,” balas Toni.

”Sedang beli ketupat?” tanya Yusuf. Toni mengangguk.
Toni mengajak Yusuf mampir ke rumahnya. Sebenarnya Yusuf ingin menolak, tapi karena Toni memintanya dengan sangat, akhirnya Yusuf mengikuti Toni ke rumahnya.
”Duduklah di sini,” kata Toni. ”Kemarin aku belum mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih karena kau telah mengantarku pulang.”
”Jangan sungkan. Sudah sewajarnya, kan teman saling membantu?” kata Yusuf.
Toni menghidangkan ketupat yang dibelinya tadi pada Yusuf, setelah menyiapkan ketupat yang sama untuk sarapan ketiga adiknya.
”Makanlah,” kata Toni. ”Sebagai rasa terima kasihku, aku hanya bisa membalas ini.”
Yusuf terharu mendengarnya. ”Kau tidak makan?” tanya Yusuf.
Hari berikutnya, ketika Yusuf pergi ke pasar, ia bertemu dengan ketiga adik Toni.
”Kalian sedang beli apa?” tanya Yusuf. ”Eh, kakak. Selamat pagi. Kami sedang beli ketupat. Hari ini ulang tahun Kak Toni. Kami ingin menyiapkan ketupat untuknya.”
”Kok hanya beli sedikit? Untuk kalian mana?” tanya Yusuf.
”Uang kami tak cukup, Kak. Ini kami siapkan untuk Kak Toni. Sudah lama sekali Kak Toni tidak makan ketupat. Padahal kami tahu Kak Toni begitu ingin memakannya, tapi ia selalu mengalah pada kami. Kemarin ia juga tidak makan ketupat.”
Yusuf teringat waktu Toni menyajikan ketupat untuknya kemarin. Itu pasti jatah ketupat milik Toni yang sengaja diberikan padanya.
Yusuf pun pulang mengantarkan bahan-bahan pesanan mamanya.
”Maaf, Ma. Bolehkah menu kita hari ini ketupat saja?”
Mendengar permintaan Yusuf, Mama menyelidik. ”Ketupat? Kau tidak bosan?”
Yusuf menggeleng. ”Nanti
sesudah ketupatnya jadi, boleh
Yusuf membagikannya ke teman?”
Mama tersenyum lalu mengangguk. ”Tentu saja boleh.”
***
”Kak Toni, ada Kak Yusuf,” seru Ilham, adik terkecil Toni.
”Apa ini?” tanya Toni ketika Yusuf menyerahkan sebuah bungkusan untuknya.
”Selamat ulang tahun. Ini hadiah ulang tahunmu. Mama membuat banyak, jadi aku ingin membaginya denganmu.”
Ketiga adik Toni gembira. ”Ketupat, ya, Kak? Kelihatannya enak.”
Mereka pun makan dengan lahap. ”Terima kasih, Ya Allah. Hari ini aku bisa berbagi kegembiraan dengan mereka,” ucap Yusuf dalam hari.

Tinggalkan Balasan

Back to Top