Surat Untuk Capres

Cerpen: Dwi Ratih Nofiastuti

Malam ini Meysa tampak begitu tegang. Esok dia harus terbang ke Singapura untuk menjalani operasi yang mungkin akan menjadi operasi terakhirnya. Yah… penyakit yang kian hari membuatnya semakin lemah, bahkan dia harus pasrah ketika kedua kakinya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Meysa sudah tampak begitu lelah. Terlalu lelah untuk berharap operasinya kali ini akan memberikan pengaruh banyak bagi hidupnya. Tapi dia tak kehilangan semangat untuk menghasilkan sesuatu. Dia pun memulainya. Kalaupun hidupnya harus berakhir di meja operasi, dia berharap ada sesuatu yang ditinggalkan untuk banyak orang. Meysa mengambil laptop yang ada di mejanya dan meletakkannya di pangkuannya. Dia membuka laptop itu, dan mulai mengakses internet. Dia membuka blog pribadinya dan mulai menuliskan sesuatu dalam blog tersebut.

Untuk para calon presiden Perkenalkan saya Meysa. Seorang gadis berumur empat belas tahun, yang saat ini hanya bisa duduk di kursi roda. Jangan tanyakan mengapa? Atau apa sebabnya? Karena bukan itu yang ingin saya bahas. Di sini, saya hanya ingin menuliskan aspirasi saya sebagai warga negara. Saya ingin mengungkapkan apa yang saya lihat, dengar dan saya alami. Mungkin bukan sesuatu yang penting bagi Anda. Tapi, dengan penuh kerendahan hati, saya harap Anda berkenan membacanya.
Saya lahir di Indonesia, saya tumbuh di Indonesia. Sejak kecil tak pernah sekalipun saya meninggalkan Indonesia. Namun, besok saya harus pergi ke Singapura untuk menjalani operasi. Sesuatu yang sangat berat bagi saya.
Mengapa saya harus mempertaruhkan nyawa di negara lain? Mengapa teknologi di Indonesia dianggap kurang memadai untuk mengatasi penyakit yang kian hari menggerogoti tubuh saya? Mengapa saya harus ke luar negeri? Sedangkan, berada di sana pun sama sekali tidak menjamin saya masih bisa pulang ke Indonesia dalam keadaan hidup.
Saya mulai dari tempat tinggal saya. Saya tinggal di kompleks perumahan elite di sebuah kota di Indonesia. Sayangnya bukan tempat tinggal saya yang akan jadi perbincangan, tapi sebuah perkampungan kumuh di belakang kompleks perumahan yang saya tinggali.
Di perkampungan itu, saya melihat banyak hal yang membuat hati saya pedih. Hampir 50% anak-anak di perkampungan itu putus sekolah. Kegiatan mereka tiap hari adalah bekerja apapun untuk menyambung hidup. Jangan tanyakan kepada saya di mana orangtua mereka? Karena saya sendiri tidak tahu. Yang saya pikirkan adalah anak-anak seumuran mereka harusnya tertawa bahagia di sekolah. Bermain dan belajar bersama teman-teman mereka di sekolah. Bukan berada di jalanan hanya untuk mencari uang seratus rupiah.
Yang saya pikirkan adalah di mana bukti dari pelaksanaan UUD 1945 yang menjamin mereka untuk mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak? Karena menurut saya, apa yang terjadi pada mereka adalah bukti kegagalan bangsa dalam mempersiapkan generasi penerus.
Bagaimana mungkin Anda meletakkan masa depan bangsa di pundak mereka, sementara mereka sendiri belum tentu sanggup untuk memikul masa depan diri mereka sendiri.
Bukan hanya itu, di rumah sakit tempat saya dirawat, masih banyak ketidakadilan yang saya temui. Tahukan Anda? Seorang ibu pernah menangis di depan kedua mata saya. Beliau menangis karena menyesali ketidakmampuannya untuk membiayai pengobatan puteranya.
Yang saya tidak habis pikir adalah bagaimana mungkin nyawa seseorang dipertaruhkan oleh punya atau tidaknya uang? Mengapa hak seseorang dikalahkan begitu saja oleh uang? Uang memang penting, namun mengapa uang harus menjadi tolok ukur bagi kehidupan seseorang? Apakah moral bangsa yang dikatakan beradab ini begitu bobroknya? Sampai hati nurani pun tertutup oleh kemilau uang dan kekuasaan.
Saya tidak mengharapkan Anda sebagai calon presiden mengumbar janji untuk kemajuan negeri ini. Saya tidak mengharapkan kecakapan Anda dalam mengambil hati rakyat untuk mempercayakan bangsa ini pada Anda. Yang saya inginkan adalah Anda tetap melaksanakan apa yang Anda janjikan untuk memajukan negeri ini, baik apakah Anda terpilih menjadi presiden ataupun tidak.
Yang saya harapkan dari Anda bukan bagaimana caranya memerangi KKN yang merajalela. Bagaimana cara menangkap dan mengadili para koruptor. Tapi, bagaimana cara Anda membawa seluruh masyarakat untuk berjuang bersama Anda membentuk moral dan mental yang berkualitas bagi penerus bangsa. Bukan bibit-bibit koruptor.
Saya sangat mengerti bahwa hal tersebut tidak akan dapat terwujud jika Anda sendirian. Untuk itu saya mengharapkan Anda semua sebagai calon presiden Republik Indonesia dapat bersatu. Bukannya sibuk men-cari cara bagaimana untuk dapat menduduki jabatan sebagai presiden. Bukannya sibuk saling menjatuhkan satu sama lain.
Bukan itu yang dibutuhkan oleh negara kita saat ini. Tapi lebih kepada persatuan dan kesatuan kita sebagai satu tumpah darah.
Saya sangat mengerti bahwa ini adalah politik. Di belahan bumi manapun semua akan sama. Tapi, jika kita terfokus pada itu, maka bangsa kita tidak akan mendapatkan apa-apa bukan?
Sangat klise jika saya menginginkan semua terwujud. But, anythings is possible. Saya hanya berharap segala kemungkinan dapat terwujud.Saya hanyalah seorang warga negara yang hendak menyampaikan aspirasi. Saya hanya titik kecil yang mengharapkan berada di suatu tempat yang luas dan nyaman. Saya hanya seorang teman yang berharap teman saya dapat mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan. Saya hanya seorang anak yang berharap seorang wanita yang sama seperti ibu saya dapat memperjuangkan kehidup-an bagi anaknya. Itu saja.  Hormat saya, Meysa

Meysa pun berhenti menulis. Dia memastikan tulisannya telah tersimpan di blognya. Dia juga mencetak tulisannya itu dan memasukkan ke dalam amplop yang telah disiapkan sebelumnya.
”Mbak Mey memanggil saya?”
”Iya Bi, saya ingin Bibi mengeposkan surat ini!” Meysa memberikan amplop berisi tulisannya itu kepada pengasuhnya.
”Bi, doakan Mey bisa kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Bibi ya!” ”Pasti Mbak. Pasti,” Bi Imah
tersenyum dan memeluk Meysa erat. Sangat erat. Seolah kejadian itu tidak akan terulang lagi.
Meysa pun pergi tidur. Dengan senyum yang sangat tenang dan damai. Tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuhnya yang kecil dan lemah itu tersimpan sejuta rahasia. Rasa cintanya kepada Tanah Air melebihi siapapun.
***

Satu pekan setelah keberangkatan Meysa, sebuah surat kabar menerbitkan tulisan yang telah dibuat oleh Meysa. Tepat satu bulan setelah penerbitan tulisan tersebut, sebuah pesawat dari Singapura membawa sebuah peti jenazah. Di peti tersebut terukir nama Meysa Arca Indonesianus.
Meysa mengembuskan napas terakhirnya di meja operasi di sebuah rumah sakit berstandar internasional di Singapura, dalam usia 15 tahun. Mungkin bagi sebagian kecil orang, Meysa hanyalah seorang anak biasa, tapi bagi Ibu Pertiwi yang tengah menangis dalam ketidakberdayaannya, Meysa bagaikan tangan putih yang mengeringkan air mata di pipi Ibu Pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Back to Top