Kue Keranjang

 

Cernak: Esti Suci Arunningsih

Ada satu murid keturunan etnis China di kelas Linda. Melia namanya. Tak banyak murid yang dekat dengannya. Dia begitu pendiam dan lebih senang menyendiri.
”Kita kerjain Melia, yuk?” Linda melontarkan idenya kepada ketiga sahabat dekatnya, Putri, Dila dan Meli. Sebenarnya Linda melakukan ini karena kesal dengan Melia yang selalu ranking satu di kelas, dari kelas satu sampai kelas lima seperti saat ini. Linda tidak pernah bisa menduduki ranking satu, selalu saja di bawah Melia. Padahal ia sudah les ke mana-mana.
”Caranya?” Putri penasaran. Linda segera membisikkan rencananya ke telinga Putri, disusul ke telinga Dila dan Meli. Keempatnya lantas mengangguk setuju. Saat pulang, mereka segera menghampiri Melia.
”Sebentar lagi kan Tahun Baru Imlek nih, kamu harus membagikan kue keranjang kepada teman teman sekelas,” papar Linda.
”Tiap anak satu ya. Jadi, kalau di kelas kita ada 30 anak, berarti kamu harus menyiapkan 30 kue keranjang,” tambah Dila.
”Ta… tapi…,” Melia terbata-bata.
”Apa susahnya sih menyediakan 30 kue keranjang? Kamu kan anak orang kaya, tiap hari diantar-jemput mobil,” hardik Putri.
”Lagi pula, di rumahmu pasti banyak kue keranjang,” Dila menambahi. Melia tertunduk. Matanya terlihat berkaca-kaca. Mereka berempat tidak menggubrisnya.
”Hari Selasa kita tunggu. Teman-teman sekelas juga sudah kita kasih tahu kok,” kata Linda.
Hari Selasa pun tiba, sebelum bel masuk berbunyi, Linda dan kawan-kawannya sengaja mencegat Melia di depan gerbang sekolah. Tak lama kemudian Melia datang. Tapi ia terlihat tidak membawa apapun.
”Bawa kuenya?” Meli penasaran.
Melia mengangguk. ”Tapi nanti istirahat aku bagi.”
”Kena deh kita kerjain,” Putri berbisik pada Linda.
Saat istirahat, Linda, Dila, Meli dan Putri sekelas langsung menuju meja Melia. Mereka menanti dibagi kue keranjang seperti yang dijanjikan. Dengan tenang, Melia mengeluarkan kotak makan warna bening ke atas mejanya. Dibukanya kotak itu. Ada banyak irisan kue warna cokelat.
”Nih, tolong dibagi sendiri. Jumlahnya 29. Aku tidak perlu dibagi,” kata Melia enteng.
”Apa ini?” Linda penasaran.
”Kue keranjang,” jawab Melia pendek.
”Kuenya diiris tipis, lalu digoreng sama telur.”
”Tapi, maksud kita kue keranjang yang masih utuh. Masih dibungkus plastik,” Dila terlihat kesal dengan jawaban Melia barusan.
”Lho, kalian kan tidak minta seperti itu. Hanya minta dibawakan kue keranjang. Ya ini kue keranjangnya,” Melia menjelaskannya dengan tegas.
”Huuuuuuh, dasar orang kaya pelit,” sorak mereka berempat. Walau pun dalam hati diam-diam Linda mengakui kecerdikan Melia.
Plok…plok…plok… Terdengar suara tepuk tangan. Semuanya menoleh. Bu Siwi, wali kelas mereka, masuk ke ruangan kelas.
”Ibu sudah tahu semuanya,” tukas Bu Siwi.
”Ayo, tunggu apa lagi, nikmati kue keranjang yang kalian inginkan,” tambah Bu Siwi dengan nada menyindir.
Semuanya menunduk.
”Kita cuma becanda kok, Bu,” Putri membela diri.
”Tapi apa kalian tahu, Melia selalu menangis ke ibu sejak kalian minta kue keranjang sebanyak 30 buah. Melia ini tidak seperti apa yang kalian bayangkan. Tidak semua etnis China kaya. Kalau Melia ke sekolah diantar-jemput mobil, itu karena papa Melia sopir. Mamanya jualan keliling kue-kue titipan tetangga di Pasar Klewer. Kalau kalian minta kue keranjang utuh 30, itu memberatkan dia,” Bu Siwi menerangkan panjang lebar.
Keempatnya tertegun.
”Maafkan kami ya, Lia,” Meli bergegas mengulurkan tangannya pada Melia. Disusul Putri, Dila dan Linda. Melia menyambut ungkapan maaf teman-temannya dengan penuh haru.

Tinggalkan Balasan

Back to Top