SENAPAN

 

Cerpen Budi Setiyarso

Pusinglah kepala Pak Jumari tiap kali mengingat peristiwa penggusuran permukiman liar itu. Bentrok antara Satpol PP dengan korban penggusuran terpaksa membuat kompinya turun tangan. Nuraninya tak sejalan dengan tindakannya waktu itu. Tapi itu tugasnya sebagai tentara setingkat tamtama yang wajib ia jalankan.
Waktu itu seluruh rumah dirobohkan. Satpol PP membongkar satu per satu pondasi rumah tripleks. Pemilik rumah hanya sempat mengeluarkan barang-barang yang dirasa sangat-sangat berharga.
Saat eksekusi di salah satu rumah, ada seorang warga yang nekat masuk ke rumah untuk mengambil barang yang dianggapnya mutiara. Satpol PP bersikeras meratakan rumah tanpa peduli sang penghuni masih di dalam rumah. Saat warga yang terjebak di dalam hampir mendobrak pintu yang menghalangi setengah jalannya, talang rumah menjatuhi kepalanya.
Jeritan orang tua itu menggelegar. Seluruh warga kaget dan panik. Petugas yang tak tahu menahu itu juga terkesan sangat bingung. Warga menjadi geram. Dituduhnya para Satpol PP sengaja melakukan tindakan itu. Warga marah dengan kompaknya. Api kebrutalan merajalela.
Saat itulah tugas Pak Jumari dan kompinya beraksi. Menjaga Satpol PP dari amukan warga adalah tugas penting yang diemban. Perkelahian antara warga dan tentara pun berlangsung bak para suporter sepakbola yang mengganyang aktor lapangan yang dianggap curang. Beberapa tentara terluka. Warga yang terluka pun tak kalah banyak, jumlahnya puluhan.
Salah satu tentara menangkap seorang bapak tua yang dianggapnya provokator. Bapak tua itu menjadi bulan-bulanan karena diseret ke markas kompi. Pak Jumari mengetahui bapak itu bukan sang provokator. Pak Jumari membujuk anggota yang lain untuk melepaskan korban praduga tersebut.
Akhirnya, dilepaskanlah orang tua itu dalam kondisi babak belur. Pak Jumari bahkan sendirian mengantarkan sang bapak kembali ke komunitasnya. Tak disangka, seorang wanita tua meludahi muka Pak Jumari setiba di lokasi. Tapi tak ada yang lebih menyakitkan hatinya daripada ludahan tadi. Wanita itu berkata dengan membentak-bentak,
”Di mana hatimu sehingga tega melukai bapak-bapak tua tak berdaya seperti ini? Kemarin senapanmu mampu mengusir kami dari rumah kami. Tapi percayalah. Kusumpahi kau. Keluargamu akan mati karena senapan. Semua mati karena senapan pembunuh itu. Orang yang menanam akan menuainya,” wanita itu pun menangis dan tertawa di atas sumpahnya.
Pak Jumari terdiam meredam emosi. Pak tua yang diantarnya pun mencoba menenangkannya. Pak Jumari tersenyum dan bergegas meninggalkan tempat tersebut, tanpa sepatah kata pembelaan yang ia utarakan. Kembali teringat kata-kata sumpah wanita itu. Pak Jumari menjadi pusing dan semakin pusing. Sudah satu bukti yang membenarkan kutukan itu.
Anak pertamanya yang menjadi polisi di Bekasi meninggal setelah terlibat perkelahian dengan rekan sejawatnya. Gara-gara seorang wanita, anaknya harus membayar dengan kematian yang tragis. Terhunus peluru pistol. Tak disangka oleh Pak Jumari. Didikan keras pada anaknya selama 20-an tahun, ternyata dikalahkan oleh kelembutan seorang wanita.
Pak Jumari menjadi percaya atas sumpah wanita tua itu. Terkadang, ia menghipnotis diri berharap sumpah itu tak terjadi. Tapi hipnotis itu tak menyingkirkan rasa takut. Ia tetap merasa omongan orang miskin itu akan terjadi. Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya. Menghantui lamunannya. Sempat ia menceritakan kepada isterinya soal kutukan itu.
Isterinya ketakutan dan menyarankan pergi ke dukun. Puluhan dukun telah ia datangi untuk menolak bala. Tapi, ketakutan tetap saja mengintainya. Masa pensiun tentara itu tinggal tiga tahun lagi. Sempat ia akan keluar dari kompinya agar tak lagi berurusan dengan senjata mematikan bernama senapan.
Tapi, belum sempat tindakan pengunduran diri terjadi. Anaknya yang kedua tertangkap basah membolos sekolah dan berjudi. Waktu itu terjadi penggerebekan polisi di suatu tempat perjudian, dan anak kedua Pak Jumari terborgol di sana. Pak Jumari semakin bersikeras mengundurkan diri gara-gara peristiwa itu. Dia begitu malu pada seragamnya yang begitu ditakuti orang lain, tapi tak ditakuti oleh anaknya sendiri.
Sesampai anaknya di rumah, Pak Jumari melampiaskan amarahnya kepada sang anak. Bentakan-bentakan liar tak dapat dihindari. Ia menghukum anaknya dengan pukulan-pukulan layaknya pelatihan militer. Terang saja anaknya menjadi sama marahnya dan semakin tak terkontrol. Diambilnya senapan bapaknya. Dan, ditembakkan senapan itu ke arah perut.
Dor… door… doooor.
Pak Jumari sejenak terdiam menahan rasa sakit dan berakhir bersama rebahan tubuh di lantai yang bermandikan darah segar. Setumpuk penyesalan melanda si anak. Di arahkannya senapan ke pelipis kepala. Dan…
Doooor!
Kepalanya retak bersimbah darah. Bu Jumari segera berlari ke arah suara senapan yang mengaum. Melihat kedua orang yang dicintainya tergeletak berlumuran darah di lantai, ia langsung pingsan. Keesokan harinya, upacara pemakaman dilaksanakan. Pemakaman dua orang yang mati baku hantam itu disatukan dalam sebuah upacara. Upacara pemakaman pertama dengan tradisi masyarakat umum, sedangkan upacara kedua dengan tradisi pemakaman ala militer.
Bu Jumari yang kondisi hatinya mulai membaik dapat mengikuti upacara pemakaman dengan tegar. Tahap pertama pemakaman ala masyarakat umum, Bu Jumari dengan baik mengikuti ritual itu. Bahkan, Bu Jumari sempat menaburkan bunga di atas jenazah kedua almarhum.
Bu Jumari yakin dia akan tetap hidup tanpa berurusan lagi dengan senapan pembunuh itu. Karena ia akan hidup sendiri dalam kehidupan warga sipil. Tak berurusan lagi dengan bunuh membunuh, tembak menembak. Pekerjaannya sebagai penjahit menambahnya yakin dia tak akan berurusan lagi dengan kutukan itu.
Upacara pemakaman yang kedua dilaksanakan ala militer. Para prajurit berbanjar mengiringi jenazah Pak Jumari ke liang peristirahatan. Tampak suaminya begitu wibawa di akhir masa hayatnya, bak seorang pahlawan yang diagungkan. Pemakaman Pak Jumari seperti pahlawan yang gugur di medan perang membela Tanah Air.
Sejenak Bu Jumari bangga kepada suaminya. Suami yang begitu setia pada tugas, pada instansinya dan ujung-ujungnya pada bangsa dan negeri ini. Tapi tak kalah bangganya pada suami yang juga tak kalah setianya pada keluarga. Lamunannya meraih ingatan ketika sang suami ditugaskan di Aceh dulu. Lamunan itu membawanya semakin dalam pada kenangan manis dengan suaminya. Ia terlihat senyum-senyum alami.
Tiba-tiba, seruan dari pimpinan upacara menyadarkannya kembali. ”Hormat senjataaaa, grak!!!” Suara lantang itu diikuti letupan senapan yang menggelegar di langit. ”Dar… dar… daaar”. Secepat kilat lamunan Bu Jumari berpindah pada peristiwa mengenaskan yang menimpa anak dan suaminya. Ia tersentak kaget. Penyakit jantungnya kembali kambuh. Ia pun menyusul suami dan kedua anaknya…

Tinggalkan Balasan

Back to Top