Dua Sisi

Cerpen : Nuri Witanto

Setelah dipertimbangkan, Bapak diterima bekerja di perusahaan kami, tapi sebagai pengikat hubungan antara perusahaan dengan Bapak, maka Bapak diwajibkan untuk membeli paket dari produk kami, Pak, sebagai ikatan emosional gitu Pak. Karena selain mengutamakan kualitas personal kami juga memprioritaskan loyalitas karyawannya, bagaimana Pak! Bersedia?” Kalimat itu masih terngiang di gendang telingaku, deru hatiku mengumpat wanita sok alim itu. Pak Wiryo kembali melayani pelanggan yang baru datang, dia juga tampak merasakan kegundahanku.
”Sudahlah Dik, untung adik belum kebacut luwih dalem,” redanya dengan bahasa Jawa campuran sambil menyajikan es teh kepada pelanggannya. Peristiwa ini berawal saat aku membaca iklan di sebuah surat kabar tentang lowongan pekerjaan sebagai staf kantor di sebuah perusahaan. Lalu aku telepon ke nomor yang tercantum dan aku datangi perusahaan tersebut di wilayah Solo. Saat aku datang dengan lamaran lengkap aku langsung diwawancarai oleh pegawai perusahaan yang mengaku berasal dari kantor cabang dari Bekasi tersebut. Aku disuguhi pertanyaan yang sok formal. Aku jawab saja pertanyaan itu. Beragam pertanyaan itu aku jawab dengan lancar, bergaya sok intelek tanpa ba bi bu aku jawab benar-benar berniat cari kerja. Sampai aku membayar biaya pendaftaran Rp 15.00 dan uang muka beli paket Rp 50.000. Sebenarnya aku rada curiga, tapi aku mencoba untuk berpikir positif. Di kemudian hari aku menyerahkan pelunasan uang beli paket senilai Rp 250.000. Untung saja aku tidak serahkan semua uang di dompetku. Aku pun keluar dengan lamunan bangga sudah dapat kerja di saat lapangan kerja kian susah dicari. Apalagi jadi staf kantor, terbayanglah sudah keindahan masa depanku. Tapi semua mimpi itu hancur lebur saat aku mendapat info dari Pak Wiryo baru saja, di saat aku menyempatkan diri minum es teh di kedainya sebelum mencari bus untuk pulang. Yang lebih hancur lagi uang Rp 250.000 yang aku dapat dari utangan tetanggaku, melayang. Ternyata perusahaan itu telah beroperasi menipu para pelamar kerja seperti sejak dua bulan lalu. Modus yang digunakan ialah menerima pegawai dengan dikenakan biaya sekitar Rp 300.000 dan berbagai janji penempatan kerja di posisi basah. Tapi ternyata janji-janji itu hanya bualan belaka. Banyak para pelamar yang tertipu dan semakin diperas uangnya saat bekerja. Bahkan sebelum beroperasi lagi perusahaan itu pernah disegel karena kasus serupa.
***
”Kok sekarang baru pulang ta Mul, mampir ke mana saja kamu?” sambut Emakku sambil membereskan kacang yang habis dijemur.
”Biasa Mak, sibuk banget ngurusin laporan-laporan Mak.” Aku gunakan sekolah sebagai senjata andalan untuk mengelabui orangtuaku. Maklumlah sekarang ini aku masih duduk di bangku SMK swasta di kecamatan. Aku sudah menginjak kelas tiga yang tinggal menunggu datangnya ijazah kelulusan. Aku mencari kerja pun tanpa sepengetahuan orangtuaku, sesungguhnya aku tak bermaksud membohongi mereka, aku hanya tak ingin dapat kerja setelah aku lulus nanti. Dan itu merupakan kebanggaan tersendiri sebagai seorang anak yang ingin berbakti kepada ayah ibunda.
***
Walaupun sudah sepekan tapi luka di hatiku tentang perusahaan penipu itu masih membekas, aku tak membicarakan peristiwa ini kepada siapa pun. Acara perpisahan di sekolahku telah tiba, perpisahan sengaja dilaksanakan lebih awal dari pengumuman kelulusan agar semua siswa dapat mengikuti sebagai antisipasi kalau ada yang tidak lulus. Aku kini belum punya prospek kerja, bekerja merupakan tujuan utama sebagian besar orang di lingkunganku setelah lulus SMA/SMK. Keinginan melanjutkan ke bangku kuliah harus kupendam dalam, maklumlah keluarga dari golongan menengah ke bawah. Hidup tambah sulit saja saat kemarin utangku ditagih oleh tetanggaku karena ada keperluan mendadak. Aku makin bingung untuk meminta kepada orangtua terus alasan apalagi yang akan aku pakai.
”Pong gimana ke depan, sampai sekarang dapat lowongan belum?” tanyaku pada sobat kentalku saat kami pulang menghadiri acara perpisahan. Nama aslinya Gunarto, tapi sering ku memanggilnya Sipong.
“Belum Mul, ini aku juga lagi nyari,” sahut cowok yang punya cita-cita jadi musisi itu.
”Wah, kita kok selalu samanasibnya ya Pong, nanti kalau sudah dapat aku dihubungi ya?” Dia tersenyum manyun, perbincangan kami terputus setelah Sipong masuk ke bus kota, bila sudah bersama dia aku jadi lupa semua masalah. Aku pun segera mendapatkan bus tujuan ke rumahku, lumayan sepi penumpangnya.
”Pulang, Mul,” sapa cewek yang duduk di pojok belakang.
”Oh Irma, iya nih, kirain siapa?” aku pun segera duduk di sampingnya. Irma merupakan adik kelasku yang masih duduk di kelas dua. Tak berlangsung lama sesaat setelah kuhempaskan tubuh duduk di kursi bus, kulihat di dekat kaki kiri Irma tergeletak sebuah handphone (HP).
”Wah mujur banget nih, tujuh ratus ribu nih, semua utangku lunas,” bisikku dalam hati. Selama perjalanan Irma tak tahu keberadaan HP itu. Begitu Irma turun, hatikupun bersorak kegirangan. Segera kuambil benda warna oranye itu, kuambil kartunya dan kusimpan ke saku baju, sementara HP kumasukkan segera ke dalam tas. Begitu turun dari bus, segera kulangkahkan kakiku ke counter terdekat di kecamatanku. Ramai sekali pengunjungnya, aku pandangi nama counter HP itu.
”Ayo cepat kamu jual HP itu, kamu kan butuh duit, utangmu sudah ditagih kan! Lagi pula itu tak disengaja, nanti jadi mubazir jadinya,” bisik setan dalam hatiku. Sementara bisikan lain juga kian menguat. ”Mul, itu bukan hakmu, kamu sama saja dengan mencuri.” Aku sungguh bingung. Merasa tak menemukan keputusan, aku mencari jalan tengah akhirnya kupulang untuk berpikir lebih dulu. Sesampainya di rumah, malamnya mata ini tak juga lelap, kurasakan diri ini ditarik-tarik dua kutub yang bertolak belakang, antara untuk melunasi utang dengan sisi lain yang tak ingin menikmati rezeki yang bukan hakku. Kupandangi lagi benda yang tergeletak di sampingku itu, aku jadi teringat pengalamanku masa lampau saat ku tertipu.
”Ah, pasti pemilik HP ini juga merasakan sedih seperti yang kualami dulu, kasihan dia,” pikirku dalam hati. Aku terhenyak, kini kucoba mencari jati diriku yang sebenarnya. Biarlah aku miskin tapi semoga aku tak seperti mereka, para pendusta yang menjadi hamba rupiah dengan cara yang haram. Toh ini bukan milikku. Kini kubulatkan tekadku untuk mengembalikan HP ini kepada yang punya.
***
Di pertigaan kecamatan aku tunggu dia si pemilik HP. Aku ikhlas serahkan HP itu pada yang punya, tentu dengan seselip harapan mendapatkan pamrih.
”Mas, Mas benar yang namanya Mulya Setiawan?”
”Iya, kenapa Dik?” jawabku penuh tanya kepada anak kecil yang berseragam SD yang tiba-tiba ada di dekatku. Kok dia tahu namaku, tanyaku dalam hati keheranan.
”Makasih banget ya Mas, hampir saja aku dimarahi orangtuaku, sekarang dibawa kan mas HPaku?” kata bocah berusia sekitar tujuh tahun itu dengan polos dan lugunya.
”Duh gusti, kenapa suaranya di HP kemarin terdengar lebih dewasa, sampai-sampai aku nggak sabar mau tahu berapa jatah yang kudapat, kalau bocah semacam ini mana tahu dia arti uang lelah atau timbal balik,” kataku dalam hati.
”Oya ini, ini…” kataku sambil menyerahkan HP itu.”
“Lain kali hati-hati ya bawanya,” tambahku lagi sok pemurah meski dalam hati ini rada kecewa.
”Ya dah Mas Mul, Mas baik banget, aku sudah ditunggu Mama nih Mas, makasih ya Mas.” Aku mengangguk, kupandangi larinya bocah kecil itu. Aku tertegun memikirkan nasib ini. Tapi akhirnya kutemukan arti keikhlasan, walau secara materiil aku tak dapat apa-apa, tapi kurasakan ada sebuah kepuasan yang sungguh indah di dalam kalbu ini. Aku mengistirahatkan diri sebentar di bawah pohon mangga tempat aku sering menunggu jemputan ke sekolah. Sambil memikirkan utangutangku

Tinggalkan Balasan

Back to Top