Adu Lari

Cernak: Wibowo

Liburan kali ini Badi sangat beruntung. Paman Badi yang tinggal di desa berkunjung ke rumahnya. Karena sekolah Badi sudah mulai libur, paman mengajak Badi berlibur ke desa. Tentu saja Badi tidak menolak. Ayah ibunya juga setuju. Sebagai anak kota, Badi merasa anakanak desa tidak sepintar dirinya. Pengetahuan mereka pasti tidak sebanyak pengetahuan anak-anak kota, pikir Badi. Karena itu dengan penuh percaya diri Badi pergi ke desa pamannya. Ia merasa anak-anak desa akan memandanginya kagum karena ia anak kota. Paman mempunyai satu anak laki-laki sebaya Badi. Namanya Amir. Dialah yang menemani Badi bermain sehari-hari. Suatu hari, saat berkeliling desa, pandangan Badi tertuju pada anak-anak yang bermain di sebuah lahan kosong. Ada yang bermain kelereng, ada yang bermain sepak bola, ada yang main layang-layang, ada pula yang cuma duduk-duduk di pinggir sambil ngobrol. Melihat pemandangan itu, muncullah keinginan Badi untuk memperlihatkan kepandaian berlarinya kepada anak-anak desa.
”Amir, bagaimana kalau besok temantemanmu itu aku tantang lomba berlari?” tanya Badi antusias.
”Emm… tapi lahan itu banyak batunya lho, kalau belum terbiasa nanti bisa tersandung,” Amir coba mengingatkan.
”Sudahlah, aku pasti bisa mengalahkan teman-temanmu itu!” jawab Badi sombong.
”Ya sudah kalau maumu begitu. Besok sore kita ke sana,” jawab Amir mengalah. Di kota, Badi memang latihan berlari bersama kawan-kawannya setiap Minggu. Mereka memiliki pelatih khusus, mantan olahragawan lari. Badi yakin anak-anak desa pasti tak pernah belajar berlari. Karena itu, pasti kepandaian larinya tidak seberapa. Ini yang membuat Badi yakin akan menang dalam adu lari dengan anak-anak desa esok.
****
Esok sore pun tiba. Dengan kesombongan yang tinggi, Badi pun berangkat ke tanah lapang itu.
”Teman-teman, ini Badi, saudaraku dari desa. Oya, Badi ingin menantang kalian lomba lari, bagaimana?” kata Amir pada teman-temannya setelah tiba di lahan itu.
”Ayo, aku anak kota yang sering berlatih lari!” ucap Badi sombong.
”Wah, boleh juga itu,” jawab teman-teman serentak.
”Ok, begini aturannya, siapa yang paling cepat sampai di ujung lahan, dialah pemenangnya,” Amir menjelaskan. Teman-teman yang lain mengangguk setuju. Mereka yang mengikuti lomba itu segera membentuk barisan lurus dan bersiap-siap. Setelah semuanya siap, Amir pun melakukan aba-aba,
” B e r s e – dia…siap…yak!” Anak-anak pun berhamburan. Dengan cepat, Badi melesat ke depan meninggalkan anak-anak desa itu. Tampaknya Badi memenangi lomba itu dengan mudah. Anakanak yang menonton pun bersahut-sahutan menyemangati pelari andalannya. Sampai di tengah lahan, Badi pun menoleh untuk melihat seberapa jauh ia meninggalkan para pesaingnya. Di saat itulah, ia tak melihat ada batu yang mencuat ke atas tanah. Badi pun tersandung dan jatuh terguling- guling. Kakinya pun berdarah. Ia pun meringis kesakitan. Melihat hal itu, teman-teman Amir segera mendekati dan menolong Badi. Mereka segera memapahnya menuju pinggir jalan. Ada pula yang mencari obat merah. Setelah lukanya dibersihkan dan diberi obat merah, baru Badi bisa berdiri. Dengan wajah malu ditatapnya anak-anak desa yang baru saja menolongnya.
”Terima kasih kawan-kawan. Kalian telah menolongku.”
”Sudahlah, tidak apa-apa. Kami sudah biasa hidup tolong-menolong di desa ini,” kata salah satu anak desa. Badi lalu menyalami satu persatu anakanak desa yang telah menolongnya. Setelah itu ia pun dibopong Amir pulang ke rumah. Badi tak menyangka anak-anak desa yang dipandangnya bodoh ini ternyata telah ikhlas menolongnya. Badi sadar, berlari di tanah yang penuh batuan ternyata tidak semudah di lintasan lari. Badi juga sadar, kalau sombong, bisa merugikan diri sendiri. Liburan kali ini Badi sungguh beruntung. Banyak pelajaran berharga yang didapatnya di desa ini.

Tinggalkan Balasan

Back to Top