MURID ISTIMEWA

Misbakhul Munir

Pada hari pertama di Kelas V, kelasku, kedatangan seorang murid baru, pindahan dari sekolah lain. Pak Roni, wali kelas kami memperkenalkannya di depan kelas.
Tak seorang pun dari kami yang menyukainya. Sepertinya Alif, murid baru itu, berasal dari keluarga yang kurang mampu. Hal itu terlihat dari seragam dan sepatunya yang sudah usang, bukan baju dan sepatu baru seperti kami. Bahkan tasnya sudah sobek, dan terlihat ada bekas jahitan yang kasar di sana-sini.
”Anak-anakku kelas V, pagi ini Bapak akan memperkenalkan murid baru di kelas. Ayo Alif, perkenalkan dirimu kepada teman-teman barumu sekarang,” kata Pak Roni.
”Teman-teman, nama saya Alif Hidayat. Saya baru pindah dari kota lain. Saya tinggal di belakang sekolah. Ayah saya seorang tukang batu, sedang ibu saya jualan di pasar. Cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang pilot pesawat terbang,” kata Alif saat memperkenalkan diri.
”Anak-anakku, ayo siapa yang mau bertanya sama Alif?” kata Pak Roni mempersilakan kami untuk bertanya.
Kami pun mulai berbisik, memandang satu satu lain. Andi, anak yang paling sombong di kelas langsung berkata, ”Alif, itu baju dan sepatumu sudah lama dan warnanya kusam, pasti tidak punya seragam baru ya?”
Erik, yang badannya tambun pun akhirnya ikut-ikutan mengejek, ”Badanmu kok kurus dan hitam, pasti jarang makan makanan enak ya? Pernah makan ayam goreng di KFC belum?”
Aku pun ikut mengejek Alif. ”Tasmu berlubang pasti karena buat membawa batu ya? Jangan-jangan isi tasmu itu batu ya?” teman-teman sekelas pun langsung tertawa heboh.
Wajah Alif pun langsung menunduk malu, wajahnya merah padam. Pak Roni pun langsung marah ”Andi, Erik, Edo, jangan mengolok-olok Alif, ayo cepat minta maaf!” perintah pak guru.
Tapi tak satu pun dari kami yang mau minta maaf, bahkan tak seorang anak pun yang mau duduk bersebelahan dengan Alif. Akhirnya hari itu Pak Roni mendiamkan kami di kelas.
***
Keesokan harinya, Pak Roni datang dengan penampilan baru yang tidak kami sangka-sangka. Apabila biasanya Pak Roni selalu memakai baju yang rapi disetrika dan sepatu yang hitam mengilap disemir, sambil menjinjing tasnya, pada hari itu Pak Roni memakai baju biasa yang sudah kusam.
Sepatunya juga tidak hitam mengilat, bahkan tasnya sepertinya sengaja disobek di beberapa bagian. Pak Roni berdiri di depan kelas, dan Alif berdiri di sampingnya.
”Anak-anak, jika kalian tidak mau berteman dan mengolok-olok alif karena tasnya robek, baju dan sepatunya kusam, maka kalian juga harus mengolok-olok pak guru, karena pak guru juga memakai baju dan sepatu yang kusam, bahkan tas pak guru pun robek,” kata Pak Roni.
Tentu tak seorang pun dari kami yang berani bersuara. Tiba-tiba Pak Roni berkata lagi. ”Anak-anak, kita semua diciptakan sama oleh Tuhan. Kalian tidak boleh membeda-bedakan teman hanya karena baju, sepatu, atau tas. Kalau kalian menyombongkan tas, baju, dan sepatu kalian, bukankah suatu hari nanti mereka juga akan robek dan kusam.”
Kami semua tertunduk malu, dan merasa bersalah. Aku, Erik, Edo dan semua teman-teman sekelas langsung berdiri dan minta maaf kepada Alif. Alif pun memaafkan kami semua. Akhirnya kami semua bersalaman dengan Alif. Pak guru pun tersenyum puas melihat kami.
Keesokan harinya, Alif sangat terkejut, karena di mejanya sudah bertumpuk barang-barang dari kami. Ada baju seragam, sepatu, tas, makanan, dan lain-lain. Alif sangat berterima kasih kepada kami semua atas hadiah dari kami, tetapi seharusnya kamilah yang berterima kasih kepada Alif dan Pak Roni tentu saja. (Solopos/Dok)

Tinggalkan Balasan

Back to Top