Kebaya…oh Kebaya

Sore itu Lady Cempluk berniat mendatangi sebuah acara pesta pernikahan temannya. Sudah satu jam lamanya Cempluk berhias dirimidang-miding di depan cermin kamarnya. Ia bolak-balik memperhatikan kebayanya. Kali ini dia ingin tampil cantik, bahkan paling cantik di antara para undangan. Tak heran jika ia selalu memperhatikan di setiap penampilannya. Setelah merasa cukup dengan dandanannya, Cempluk pun akhirnya pergi ke rumah Gendhuk Nicole sahabatnya.

Kebetulan Nicole sore itu juga berniat datang ke pesta tersebut, jadi kedua sahabat karib itu pun bisa berangkat bersama. Sesampainya di rumah Gendhuk Nicole rupanya ia pun telah siap berangkat. Tanpa menunda waktu lagi keduanya berangkat. Mereka berangkat dengan sepeda motor. Gendhuk Nicole yang di depan karena saat itu ia tidak memakai kebaya sehingga lebih longgar. Cempluk naik dengan sedikit kerepotan karena kebayanya ngepas badan.Motor pun melaju. Di sepanjang jalan keduanya bercerita ngalorngidul. Tak lupa keduanya cekikikan saat ceritanya lucu.

Di saat keduanya cekikikan tiba-tiba terdengar suara aneh. ”Krek…” ”Suara apa itu Pluk?” tanya Gendhuk Nicole yang masih konsentrasi mengemudi motornya. ”Entahlah Ndhuk, aku juga enggak tahu,” jawab Cempluk. Karena tidak ada yang salah, keduanya melanjutkan perjalanan. Saat keduanya nyalip pengendara sepeda motor lainnya, terlihat si pembonceng menuding-nuding Cempluk. ”Astaga!” teriak Cempluk dengan muka isin-isin. Cempluk segera memukul-mukul pundak Gendhuk Nicole sambil berteriak. ”Berhenti!Berhenti dulu Ndhuk!” Nicole pun menghentikan motornya, Cempluk langsung mencolot terus ndhodhok. Lady Cempluk baru menyadari ternyata jariknya sobek dan under rok yang ia pakai terlihat orang. Jariknya telah terseret ban belakang motornya. Lady Cempluk ngebrok setengah nangis, dia isin banget.

Titik Setyaningsih, Ngelo RT 01/
RW 08, Jendi, Selogiri, Wonogiri.

Solopos, 4 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top