Salah Dudut

Ada kisah lucu yang tercecer saat coblosan pemilihan gubernur Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Sebagai warga negara yang baik, Lady Cempluk, mahasiswa universitas markotop di Solo yang ngekos di dekat kampusnya ini sengaja pulang kampung di kawasan pelosok Sragen untuk menggunakan hak pilihnya. Karena takut antre di TPS, pagi-pagi Cempluk sudah macak di depan kaca. “Ben ketok cah kuliahan, harus modis,” batinnya. “Pluuuk… Ayo, sida nyoblos ora?” panggil Gendhuk Nicole, teman dekatnya yang sudah stand
Mendengar anaknya sudah diampiri temannya, ibu Cempluk yang masih memasak di dapur mbengoki Cempluk, “Pluk, jangan lupa undangannya tak taruh di lemari, dibawah baju Ibu!” “Nggih Bu,” Cempluk pun langsung mengambil kertas putih yang ada di bawah baju sesuai pesan ibunya.

Sesampai di TPS ternyata ia menjadi pencoblos pertama. Setelah menyerahkan kertas putih dari kantongnya, Cempluk pun diberi kertas suara. Tetapi ketika ia mau masuk ke bilik, tiba-tiba… “Mbak, mbak… Suratnya keliru!” tegur petugas TPS bernama Jon Koplo. “Mosok ta, Mas?” tanya Cempluk tak percaya. Setelah di cek, ternyata benar. Yang dibawa Cempluk bukan undangan untuk mencoblos melainkan surat setoran utang ke bank milik ibunya! Rupanya Cempluk tadi salah ndudut ketika mengambil kertas undangan di bawah bajuibunya. Dengan wajah abang-ireng karena kisinan, setelah nyoblos, Cempluk pun ngeciprat lari.

Sintya Azizah, Kutorejo RT 019,
Kedawung, Mondokan, Sragen

Solopos, 10 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top