Tiwas Nesu…

Siang itu Lady Cempluk dan kembarannya, Gendhuk Nicole, sedang creambath di sebuah salon. Tiba-tiba terdengar suara berisik oleh teriakan seorang anak laki-laki yang cukup menghebohkan. Anak itu sedang main perangperangan dengan pistol mainan yang bunyinya mbrebegi kuping.

Karena merasa terganggu oleh suara itu, Lady Cempluk yang sedang asyik-asyiknya menikmati pijatan berceletuk, “Anake sapa ta kuwi? Cah kok ndridhise ora umum!” Tapi alangkah malunya Cempluk ketika wanita yang sedang memijit kepalanya berujar, “Dik… Dik! Jangan berisik ya! Tamunya terganggu lho. Kamu jalan-jalan saja sama Pak Sopir sana, nanti kalau sudah selesai Mama nyusul.” Lady Cempluk segera mengambil HP lalu meng-SMS Gendhuk. “Ndhuk, kok ra omong karo aku nek bocah kuwi anakke Mbake,” “Hla tak kira kowe ngerti pas Mbake mudhun saka mobil karo bocah kuwi mau.

Ngerti pa ora, Mbake kuwi sing duwe salon iki,” balas SMS Gendhuk. Untung saja setelah selesai creambath dan membayar, pemilik salon tersebut menyapa Cempluk dengan ramah. “Maaf ya Mbak, kalau anak saya tadi mengganggu. Jangan kapok ya…” “Oh, iya, Mbak,” jawab Cempluk dengan muka merah padam sambil keluar dari salon, sementara Gendhuk Nicole malah ngguyu ngakak.

Anasanti Darah Setomo,
Rejosari RT 001/RW 001 Bendosari,
Sawit, Boyolali

Solopos, 15 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top