Ambil Bagasi

Pengalaman pertama memang sering jadi cerita ngguyokke. Demikian juga yang dialami Jon Koplo, karyawan sebuah perusahaan di Colomadu yang baru kali pertama naik pesawat terbang ke Jakarta. Pagi itu setiba di bandara Adi Soemarmo, Koplo segera check in di konter maskapai penerbangan sesuai tiketnya. Ketika melihat Koplo membawa tas besar, petugas mengharuskan tas itu masuk bagasi. “Wah, jangan Mbak. Tas ini harus saya bawa. Isinya dokumen penting. Nanti kalau ketinggalan gimana?” elak Koplo. “Tidak akan ketinggalan, Pak. Nanti tas itu juga ikut terbang ke Jakarta.

Tapi akan ditempatkan di bagasi pesawat. Nanti setelah sampai Jakarta, tas itu bisa langsung diambil di bagian bagasi,” terang petugas maskapai bernama Lady Cempluk. Koplo pun akhirnya mengalah. Tak lama kemudian Jon Koplo masuk ke badan pesawat. “Ck-ck-ck… Biyuh-biyuuuh… tibaknen njero montor mabur ki kaya ngene ta,” Koplo gumun. Akhirnya perjalanan Solo-Jakarta dapat dilalui dengan lancar. Sampai di Bandara Soekarno- Hatta Jakarta, seluruh penumpang turun, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tetapi tidak bagi Jon Koplo. Begitu turun, Koplo langsung njujug ke bagasi pesawat yang terletak di perut pesawat bagian bawah. Tanpa ba-bi-bu Koplo langsung nyelonong hendak mengambil tasnya.

Kontan saja petugas bagasi yang sibuk membongkar muatan menghardiknya. “Masnya mau apa?” tanya petugas bernama TomGembus. “Mau ambil itu, tas milik saya,” jawab Koplo. “Maaf Mas, pengambilan barang di pintu keluar sana,” terang Gembus. Tapi Koplo ngeyel. “Tadi kata mbaknya disuruh mengambil di bagian bagasi kok.” “Iya Mas, saya paham, tapi prosedurnya tetap harus diambil di sana, bukan di sini,” jawab Gembus yang tak kalah kenceng. Setelah ditengahi petugas lain, Koplo pun manut meski hatinya masih kemropok. Gembus pun tak kalah sewot. “Padhakke numpak bis neng terminal wae,” omelnya.

Krisnanda Theo Primaditya,
RT 004/RW 019 No 15 B
Mojosongo, Solo

Solopos, 19 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top