Tiwas Ngantre

Peristiwa ini terjadi awal bulan lalu di sebuah bank swasta unit Makamhaji, Kartasura. Pagi itu Mbah Cempluk tergesa-gesa berangkat ke bank itu untuk suatu urusan. Biasanya ia ditemani Gendhuk Nicole, cucunya, tapi hari itu Si Gendhuk tidak bisa menemani karena ke luar kota. Pukul 08.30 WIB Mbah Cempluk sudah sampai di bank. Kebetulan hari Senin awal bulan, banyak nasabah yang berurusan dengan bank. Ada puluhan nasabah yang antre di situ.

Mbah Cempluk langsung duduk di kursi antrean paling depan. “Ben entuk giliran dhisik dhewe,” pikirnya. Tapi apa yang terjadi? Setelah hampir dua jam methengkreng menunggu giliran, namanya tak kunjung dipanggil juga. Hilang kesabaran, akhirnya Mbah Cempluk maju menuju petugas teller. “Mas, piya ta? Aku wis antri rong jam kok ora dipanggil-panggil? Sing luwih keri malah didhisikke?” protes Mbah Koplo kepada teller bank bernama Tom Gembus. Gembus pun paham.

Dengan sopan ia menjawab, “Nuwun sewu Mbah, menapa Simbah sampun mendhet kertu antre? Niku lhe,ten ngajeng celak Pak Satpam?” Ditanya begitu Mbah Cempluk gelagapan… “Wooo, dereng niku Mas.” Maklum, selama ini Mbah Cempluk tidak nggagas kalau cucunya pas nganter selalu ambil kartu di mesin tersebut Dengan muka abang-ireng, Mbah Cempluk segera mengambil nomor antre satpam Jon Koplo sambil menegur, “Mas, aku mau kok ora diwenehi nomer antri ki piye?” “Hla mboten ngertos Mbah, wong nasabahe kathah. Kula kintennjenengan kalih wayahe,” kilah Jon Koplo sambil mengambilkan kartu. Mbah Cempluk pun menerima kartu dan kembali ke antrean denganwajah njegadul.

Ismiyatun,
Kuncen RT 001/RW 012 Makamhaji,
Kartasura, Sukoharjo 57161

Solopos, 24 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top