Telanjur Kebobolan

Benar kata orang tua, mempunyai anak perempuan kalau kurang perhatian dan didikan akan menjadi beban pikiran. Itulah yang dialami Jon Koplo yang tinggal di Sukoharjo ini. Gendhuk Nicole, anaknya yang baru lulus SMA, belum lama ini curhat sama Koplo. “Pak, hari Minggu besok Mas Gembus mau datang,” kata Gendhuk. Koplo cuek saja. “Dia datang bersama keluarganya, Pak,” lanjut Gendhuk. Koplo sedikit kaget. “Memang mau apa, kok bawa keluarga segala?” selidik Koplo dengan fi rasat buruk. “Mau… melamar Gendhuk, Pak…!” Jon Koplo njenggirat kaget.

Betapa tidak, Koplo yang tergolong orang mampu ini sebenarnya menginginkan Gendhuk kuliah seperti kakaknya. Tak ada dalam planning Koplo untuk menikahkan anak perempuannya itu dalam waktu dekat. Singkat kata, datanglah Tom Gembus, pacar Gendhuk bersama bapak dan pamannya. Jon Koplo dan istrinya, Lady Cempluk, yang memang tidak menghendaki anaknya kawin muda meminta bantuan Pak RT untuk mendampingi sekaligus sebagai wali. Setelah berbasa-basi, akhirnya pihak Gembus mengutarakan perihal niat kedatangannya. Seperti skenario awal, lamaranitu ditolak secara halus. Gendhuk terlihat sangat terpukul dengan keputusan itu.

Kemudian rombongan Gembus pamit pulang. Selepas kepergian Gembus cs, Gendhuk menangis sejadinya. Koplo dan Cempluk menghibur anaknya, bahkan diiming-imingi akan dibelikan motor segala. “Pak, Mbok, aku iki wis isi rong sasi…!” ucap Gendhuk menggetarkan dunia dan seisinya. Seisi rumah pun terkejut. Akhirnya setelah rapat kilat dan keputusan diambil secara mufakat, Koplo segera mancal motor matiknya mengejar rombongan Gembus. Sampai di selatan jembatan Bacem, Koplo berhasil menghentikan rombongan Tom Gembus. “Pak, nyuwun ngapunten, mangga pinarak malih ten griya kula,” pinta Koplo dengan rai gedhek. Lanjut cerita, akhirnya semua selesai secara kekeluargaan meski Koplo isine ra umum.


Eko Pri Maryanto,

Manang RT 002/RW 002 Grogol,
Sukoharjo

Solopos, 25 juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top