Juruhnya Pahit

Semenjak istrinya meninggal, Jon Koplo, seorang kakek-kakek asal Wonogiri yang berusia 70 tahunan ini diboyong anaknya, Lady Cempluk, yang tinggal di Kartasura. Maklum, sudah seringsakit-sakitan sehingga
kalau tinggal sendirian Cempluk takut terjadi apa-apa. Baru beberapa hari tinggal di rumah Cempluk, Mbah Koplo ngambruk lagi. Cempluk pun membawa ayahnya ke puskesmas. “Ini cuma masuk angin biasa kok, Mbah. Tapi harus banyak istirahat.

Kalau bisa makannya bubur saja,” kata sang dokter. Sampai di rumah, Cempluk membuatkan bubur sumsum plus juruhnya biar tambah mak nyus. Setelah bubur sumsum jadi, Cempluk menyiapkannya di meja makan, lalu membangunkan ayahnya. Kesempatan sakit ini ternyata dimanfaatkan Mbah Koplo untuk bermanja-manja dengan anaknya. Ia hanya mau makan kalau disuapianaknya. Cempluk pun menuruti permintaan ayahnya. Disuruhnya Gendhuk Nicole, anaknya yang masih TK untuk mengambilkan bubur yang telah disiapkan tadi. “Ndhuk, Tolong ambilkan bubur Simbah di meja.

Jangan lupa dikasih juruhnya yang ada digelas ya,” teriak Cempluk. Tak lama kemudian Gendhuk datang membawakan bubur ke kamar Mbah Gembus. Cempluk segera menyuapinya. Tapi baru satu suapan tiba-tiba saja Mbah Koplo merasakan sesuatu yang aneh. “Buburnya kok pait ya, Pluk?” tanya Mbah Koplo. “Ah, itu kan karena Bapak lagi sakit saja, jadi kalau makan terasa pait,” Cempluk meyakinkan. Namun Mbah Koplo tetap sajangeyel dan tidak mau makan. Merasa penasaran, Cempluk pun mencicipi buburnya, dan… weeek… ternyata juruhnya memang terasa pahit. Usut punya usut, ternyata yang dituangkan Gendhuk Nicole ke bubur tadi bukannya juruh melainkan teh tawar!

Anna Zubaida,
Grogolan RT 002/RW 005
Pucangan, Kartasura, Sukoharjo

Solopops, 26 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top