Sepatu yang Mana?

Beberapa waktu lalu di desa Gendhuk Nicole di daerah Karanganyar ada kursus menjahit gratis dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan
oleh Gendhuk yang hanya lulus SMP karena keterbatasan ekonomi orangtuanya. Dengan mempunyai keterampilan menjahit, Gendhuk berharap bisa bekerja di perusahaan konveksi.

Singkat cerita, Gendhuk memasuki hari pertama mengikuti kursus menjahit di salah satu Lembaga Pendidikan dan Katerampilan. Kursus yang diikuti ibu-ibu dan remaja putri itu sangat menyenangkan karena Lady Cempluk, instrukturnya, sering menyelipkan guyonan agar suasana kursus tidak tegang. Tibalah peserta kursus mempraktikkan menjahit. Rupanya Gendhuk mengalami kesulitan. Lady Cempluk pun menghampiri. “Ada kesulitan, Mbak?” tanya Cempluk. “Ini hlo Bu, benangnya kok mbulet-mbulet,” jawab Gendhuk dengan keluar keringat dingin. “Coba, sepatunya dinaikkan dulu,” perintah Cempluk. Gendhuk semakin bertambah bingung. “Ayo, Mbak, sepatunya diangkat,” perintah Cempluk lagi.

Tapi apa jawaban Gendhuk? “Anu Bu, saya ndak pakai sepatu kok, cuma pakai sandal,” jawabnya polos. Sontak saja seluruh peserta kursus pada ngguyu ger-geran. Ternyata ada kesalahpahaman. Yang dimaksud sepatu menurutCempluk adalah “sepatu” yang ada di mesin jahit, bukan sepatu yang dipakai di kaki. Gendhuk pun jadipaham, meski harus kisinan. Untung dia pakai sandal, coba kalau pakai sepatu, barangkali sepatunya diangkat beneran.


Sri Yatno,
Perumahan Puri
Kahuripan Blok G 12 RT 002/RW
008 Jati, Jaten, Karanganyar

Solopos, 28 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top