Salah Warung

Seperti bisa, saat tidak ada aktivitas kuliah, Gendhuk Nicole nyambi ngiqroi (mengajari anak-anak mengaji Iqro) di sebuah taman kanak-kanak (TK) di daerah Kartasura. Suatu hari, sambil menunggu jam mengajar, Kepala TK menyuruh Gendhuk membelikan pecel di warung Bu Cempluk sambil mamberikan selembar uang. Semula Gendhuk sempat ragu, karena setahu dia warung Bu Cempluk yang tidak jauh dari sekolahan itu menjual ayam bakar.

Tapi kekhawatiran itu ia tepis sendiri, “Ah barangkali memang jual pecel juga,” pikirnya. Maka berangkatlah Gendhuk dengan berjalan kaki ke warung Bu Cempluk yang berjarak sekitar 200 meter dari gedung TK. Sampailah ia di warung yang lumayan banyak pembeli itu. “Bu, tumbas pecel,” kata Gendhuk. Karena kurang begitu mendengar, ibu penjual ayam bakar itu bertanya, “Tumbas napa, Mbak?” “Tumbas pecel!” jawab Gendhuk keras-keras. “Di sini ndak jual pecel, Mbak.

Ini warung ayam bakar,” terang ibu penjual tak kalah keras, sehingga membuat para pengunjung di warung tersebut pada ketawa. Gendhuk pun ngetiging balik ke sekolahan. Dengan keringat gembrobyos, uang sepuluhribuan itu diberikan ke Kepala TK. “Bu, ngapunten, pecelnya ndak ada. Bu Cempluk tidak jual pecel, tapi ayam bakar,” lapornya. Mendengar penjelasan itu, Kepala TK malah nguyu ngekek. “Oalah, Ndhuk… Ndhuk. Belinya bukan di Bu Cempluk sana, tapi Bu Cempluk di samping sekolahan ini hlo,” terang Kepala TK. Cempluk hanya bisa kukur-kukur sirah.

Taufik Hidayat, Windan
No 12 RT 002/RW 008
Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo

Solopos, 1 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top