Guru Kok Ora Isa Maca

Demi mengejar gelar S1, Lady Cempluk, seorang guru senior yang masih mulang
taman kanak-kanak (TK) di Solo ini harus kuliah lagi. Setiap hari ia harus wira-wiri Solo-Sukoharjo. Pagi mulang, siangnya kuliah di universitas swasta di Kota Makmur itu. Hal itu dilakoni setiap hari dengan naik angkot karena motornya dipakai anaknya yang juga kuliah di Jogja.

Sore itu, Cempluk pulang kuliah dan langsung menuju deretan angkot yang berjajar di terminal Pasar Sukoharjo. Kebetulan angkot yang dinaiki Cempluk masih ngetem untuk memenuhi kuota penumpang. Ketika ia tengah leyeh-leyeh sambil ngantuk-antuk, tiba-tiba seorang penjual koran, sebut saja Jon Koplo, datang menghampirinya. “Korane, Bu,” tawar Koplo halus. “Mboten, Mas,” jawab Cempluk ramah. “Beritane sae lhe, Bu,” ulang Koplo. “Mboten, Mas,” tolak Cempluk.

Koplo pun tak menyerah, ia mencoba menawari sekali lagi. “Niki beritane jos lhe, Bu. Mangga saged diwaos riyin,” eyel Koplo. Saking jengkelnya, Cempluk yang jelas-jelas memakai baju PSH itu menjawab, “Mas, aku ki ra isa maca ya, dadi ora sah kok tawani koran. Ora kacek!” jawabnya sengol. Mendengar jawaban itu, Koployang tadinya semangat langsung balik kanan sambil berujar, ”Nganggo klambi guru kok ora isamaca ya? Aneh…” Tak urung, beberapa penumpang lain pun pada pating cekikik menertawakan adegan itu.


Siti Fatimah.

Gunung Sudo RT 001/RW 007
Malangan, Bulu, Sukoharjo 57563

Solopos, 3 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top