Ndheplok Kutang

Jon Koplo dan Lady Cempluk adalah sepasang kakek-nenek yang tinggal di daerah Plupuh, Sragen. Meski
usianya sudah kepala tujuh, suami-istri senior ini masih trengginas dan tampak mesra. Suatu hari mereka pulang dari rumah anak mereka di Boyolali. Ndilalah sampai di rumah sudah sore. Karena merasa kecapekan, Mbah Koplo berniat membuat jamu. Maka dipetiknya beberapa lembar daun papaya yang tumbuh di samping rumahnya, lalu dibawa masuk ke rumah dan diletakkan di kursi dekat lumpang yang biasa dipakai untuk ndheplok bahan jamu.

Karena waktu sudah malam, Mbah Cempluk berencana untuk mandi dulu sebelum membuatkan jamu untuk suaminya. Sewaktu akan mandi, Mbah Cempluk melepaskan kutangnya yang berwarna hijau itu dan menaruhnya di kursi di mana daunpepaya tadi diletakkan. Ketika istrinya mandi, Mbah Koplo berinisiatif untuk menumbuk daun pepaya itu. Nah, di sinilah masalah terjadi. Setelah beberapa puluh kali tumbukan, Mbah Koplo heran kenapa daun pepaya yang ditumbuknya tidak halus-halus. “Yang, godhong kates iki rak sing tak opek saka kebon mau, ta?” tanya Mbah Koplo. “Iya, Say. Kuwi godhong kates sing sampeyan opek mau.

Dheploken sisan,” jawab istrinya. Mbah Koplo pun melanjutkan menumbuk hingga istrinya keluar dari kamar mandi. “Iki hlo, godhonge kok alot eram. Ora isa lembut-lembut,” wadul Mbah Koplo. Dengan rasa penasaran, Mbah Cempluk pun mengamati apa yang ditumbuk sang suami. Seketika ia kaget dan ngguyu ngekek. “Oalah Yang… Yang. Sing mbok dheplok iki dudu godhong kates, ning kutangku…!” Mbah Koplo baru sadar. “Oalaaah… karang mata tuwa…!” ujarnya sambil ngguyu-ngguyu isin.

Dyah Hayu, Prodi Gizi,
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah
Surakarta

Solopos, 4 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top