Makmum Salat

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Itulah prinsip Jon Koplo. Sayangnya, prinsip itu juga diterapkan dalam menjalankan salat fardu. Meski salatnya tak pernah bolong, namun mahasiswa universitas suka nelat kalau salat. Suatu hari, Jon Koplo hendak menunaikan salat Asar di masjid kampus. Ia melihat Tom Gembus, teman kuliahnya, juga sedang salat di masjid itu.

Tanpa pikir panjang, Koplo segera mengambil air wudu, lalu menyusul salat dengan menjadi makmumnya. Koplo mengira Gembus sedang salat Asar, nelat seperti dirinya. Ditepuknya pundak Gembus, kemudian Koplo berdiri di samping kanannya, lalu melakukan takbiratul ihram. Namun Koplo merasa janggal, sebab setelah ditepuk pundaknya, Tom Gembus bukannya melanjutkan salatnya, tapi langsung mundur.

Usai salat, Koplo clingak-clinguk, lalu menghampiri Gembus dan bertanya, “Salatmu batal ta Mbus, tak makmumi kok langsung lunga?” Gembus pun tertawa sambul menjawab, ”Hla wong aku mau salat sunah kok mbok makmumi. Mulane yen salat ki aja telat.” Koplo pun sadar kalau tadi jadi perhatian orang-orang di dalam masjid. “Wooo, mulane mau wongwong padha ngguyu, bul nggeguyu aku ta?” ujar Koplo. “Mulane yen salat Luhur ki aja meh wayah Asar, salat Asar aja meh wayah Magrib,” sindir Gembus.

Andika Siwi Wijanarko,
Cantelan RT 001/ RW 003,
Mulur, Bendosari, Sukoharjo

Solopos, 12 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top