Gagal Jadi Muazin

Kisah nyata ini dilakoni oleh Jon Koplo,seorang bapak muda asal Wonogiri, saat mengikuti pesantren jurnalistik dilanjutkan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh sebuah media lokal ternama di Kota Solo, beberapa waktu lalu. Ketika waktu Salat Asar tinggal beberapa menit, acara pun dibreak untuk salat Asar berjamaah di musala kantor media itu. Usai berwudu, Koplo memeriksa jadwal salat yang tertera di dinding musala.

Maklum, Koplo adalah seorang muazin di masjid kampungnya. Dengan maksud sekadar ingin menunjukkan suaranya yang merdu, Koplo pun bersiap untukazan dengan memilih tempat duduk di dekat mikrofon. Setelah yakin waktu azan tiba,Koplo segera memegang mikrofon kecil di dekatnya. Berkali-kali Koplo mencoba menghidupkannyadengan memencet saklar, namun tak juga menyala. Tak lama kemudian terdengar suara kemresek dari loudspeaker.

“Nah,ini sudah tersambung!” ucap Koplo girang. Namun sebelum Koplo mengumandangkan azan, tiba-tiba terdengar kumandang azan lain yang membahana. “Hlo, siapa yang azan? Apa dari masjid sebelah?” Koplo heran. “Ndak Mas, itu azan dari musala ini kok,” jawab seorang sekuriti kantor bernama Tom Gembus.“Hla yang azan di mana, Mas? Ada ruangannya sendiri ya?“ tanya Koplo heran.

Tom Gembus hanya tersenyum. “Ndak Mas, ini suara dari jam azanotomatis yang sudah di-setting di musala kantor,” jawabnya. Mendengar jawaban itu Koplo buru-buru meletakkan mikrofon kecil tersebut lalu duduk manis. Sementara terdengar bisik-bisiktawa cekikikan dari jemaah lain. “Oalah, mungkin kantor ini tak memiliki tukang azan, jadi memercayakan pada mesin,” batin Koplo.

Yusuf Cahyono,
Kaloran Lor RT 003/RW 005
Giritirto, Wonogiri

Solopos, 29 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top