Pamer Harga Baju

Lebaran identik dengan baju baru. Demikian juga dengan Lady Cempluk, ABG asal Kartasura ini. Tak mau kalah dengan teman-temannya, Lebaran tahun lalu Cempluk juga mipik sandhangan sak pengadeg, kaus merah menyala, celana jins ketat plus sandal jenggel.

Dengan PD-nya Cempluk keliling untuk berhalalbihalal dengan para sesepuh. Tujuan pertama yang dikunjungi adalah rumah Pakde Jon Koplo. Yang membuat Cempluk berbunga-bunga adalah setiap orang yang ketemu dengannya pasti mengumbar senyum dan tawa. “Wah, ayu men kowe, Pluk,” puji Tom Gembus yang masih sepupunya. ]

Cempluk hanya mesammesem sajak kemayu. “Wah, klambine mesthi anyar ki,” kali ini Gendhuk Nicole nyenges sambil senyam-senyum. “Ha iya mesthi no,” jawab Cempluk PD. Setelah antre, kini giliran Cempluk untuk sungkem ke Pakde Jon Koplo.

Ketika Cempluk maju semua pada ketawa, namun Cempluk tetap cuek. Dengan posisi jongkok sambil kepala tertunduk, Cempluk serius sungkem. Setelah menjawab sungkem, sebelum Cempluk beranjak mundur Pakde Jon Koplo memegang sesuatu di baju Cempluk. “Sik-sik, Pluk… Tak deloke regane klambimu…!” katanya.

Kontan saja semua tertawa setelah tahu ternyata merek berikut label harga baju Cempluk masih cementhel belum dilepas. Dengan muka abang-ireng Cempluk beringsut mundur. “Hlo kok malah lunga? Iki hlo Pluk, pitrahmu…” goda Pakde Jon Koplo. “Golek gunting sik Pakde,” jawab Cempluk sambil nggenjrit pulang.


Anik Fitriastutik Parwitasari,

Tisanan RT 001/RW 005
Wirogunan Kartasura, Sukoharjo

Solopos, 7 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top