Nastar Sekrup

Lebaran dengan hidangan kuekue kering hukumnya seperti wajiib. Hampir di setiap rumah pasti ada kue kering, entah itu nastar, putri salju, atau kastengel. Demikian pula di rumah Bu Lady Cempluk, warga asli Sukoharjo, saat dikunjungi anaknya, Gendhuk Nicole dan menantunya, Jon Koplo.

Setelah acara sungkemsungkeman, seperti biasa Bu Cempluk mempersilakan tamunya menikmati hidangan yang tersedia. Tanpa basa basi, Koplo segera nyaplok kue nastar, mak capluk…! Tapi baru satu gigitan, Koplo merasakan seperti ada benda keras pada kue tersebut.

Setelah dilihat… “Weleh, enek sekrupe!” batin Koplo. Koplo tak melanjutkan acara makannya. Mau bilang ke Bu Cempluk kok tidak enak. Baru setelah Bu Cempluk masuk, Koploberbisik kepada istrinya, “Sing kuwi aja dimaem Bune! Sing gawe kemproh, mosok roti kok katutan sekrup.” “Ah, mosok ta Pakne?” tanya Gendhuk sambil melihat kue yang ditunjuk suaminya.

Namun setelah melihat wujudnya, Gendhuk Nicale malah ngguyu ngekek. Koplo pun jadi bingung. “Oalah Mas… Mas… Hla wong iki cengkeh ngene kok dikira sekrup!” tunjuk Gendhuk pada cengkih yang memang sengaja ditancapkan pada bagian atas kue nastar.

Fitri Gendrowati, Sanggrahan
RT 001/RW 005 Joho, Sukoharjo
57513

Solopos, 13 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top