Terjerat Basa-Basi

Jon Koplo dan Gendhuk Nicole termasuk pasangan suami-istri yang ubet. Seperti tahun-tahun sebelumnya, momentum Lebaran kali juga mereka manfaatkan dengan bisnis kecil-kecilan, yaklni membikin kuekue Lebaran untuk dijual kepada tetangga, sanak saudara, teman dan siapa pun. Lebaran tahun ini, ndilalah Koplo dan Gendhuk teringat Mbah Cempluk, neneknya dari kerabat jauh yang tinggal di Karanganyar.

Sudah tiga kali Lebaran mereka tidak mengunjungi Mbah Cempluk. “Sungkem sekaligus nawakke dagangan, barangkali bisa laku banyak, Bune,” kata Jon Koplo yang diiyakan istrinya. Singkat cerita, betapa bungahnya Mbah Cempluk disambangi cucunya. Apalagi mereka datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa kue-kue Lebaran sak tas kresek gedhe. Melihat bawaan tamunya, Mbah Cempluk langsung menyambutnya dengan ramah.

Ia pun berbasabasi, ”Halah-halaaah, kok ndadak repot-repot ta, wong ketemu wae Simbah wis seneng kok.” Mak prinding… Koplo dan Gendhuk langsung saling toleh dan melongo kebingungan. Selanjutnya, mereka hanya bisa cengar-cengir sambil merogoh dua toples kue. “Apa boleh buat,” pikir mereka.

”Mbah, niki wonten roti damelan piyambak, namung sekedhik, dingge icip-icip,” kata Genduk sambil menyodorkannya kepada Mbah Cempluk. Koplo hanya bisa tertunduk nyekel bathuk sambil ngampet guyu. Setelah mengobrol dengan penuh basa-basi wagu, Koplo dan Genduk pun cepat-cepat berpamitan. Sampai di tengah jalan, mereka pun sambat ngayawara, ”Ealaaah, wong niyate arep nawakke dagangan kok malah dikira awehaweh…”

Fatmawati, Pokoh RT 002/
RW 004, Ngijo, Tasikmadu,
Karanganyar

Solopos, 19

Tinggalkan Balasan

Back to Top