Geseh Sepuluh

Sudah menjadi kebiasaan, setiap lebaran Jon Koplo dan Lady Cempluk, sepasang suami istri di Karanganyar ini selalu membagibagikan uang fi trah ke anakanak tetangga dan keponakankeponakan. Begitu juga pada Lebaran kemarin. Menjelang Lebaran, Koplo menukarkan uang receh pecahan dua ribuan untuk dibagi-bagikan.

Maklum, tingkat kemampuan ekonominya memang baru sekelas uang receh. Tapi, meski uang receh yang penting masih kinyis-kinyis dan setiap anak akan diberi bukan hanya selembar, namun beberapa lembar. ”Ngene iki bocah-bocah mesti padha seneng,” Koplo stil yakin. Lebaran tiba. Setelah Salat Id, rumah Koplo langsung diserbu rombongan anak tetangga.

Sesuai rencana, Koplo memberi satu bendel uang yang telah dijeglogi kepada anak-anak tersebut. Bendelan jeglogan uang itu memang sudah disiapkan Cempluk setelah mendapat instruksi darisuami tercinta. Sayang, di hari pertama Lebaran itu keponakankeponakan Koplo belum bisa berkunjung ke rumahnya. Setelah menerima kunjungan tamu-tamu kecilnya, mak jegagik, Koplo kaget menyadari brankas kecilnya yang terbuat dari wadah sepatu itu kosong melompong.

”Bu, dhuwit pitrah sing nggo bocah-bocah cepet banget entek ta? Padahal keponakan-keponakan malah durung kebagian. Ketoke wingi Bapak itung-itung kudune cukup hlo?” tanya Koplo kepada istrinya. ”Lha Bapak ngitunge pripun?” ”Kan wingi Ibu tak kon njeglog sepuluh-sepuluh ben gampang mbagine.

Ibu jeglogi sepuluhsepuluh tenan?” ”Ya iya Pak, sesuai petunjuk Bapak.” ”Sik-sik, Bu… Sepuluh ki sepuluh ewu?” ”Sepuluh lembar, Pak.” ”Heh? Sepuluh lembar?! Berarti sak jeglogan isine rungpuluh ewu?” ”Ya, otomatis ta, Pak.” ”Wadhuh, tombok aku…!” sambat Koplo sambil nyekeli bathuk!

Eko Pranoto, Tegalasri RT 006/
RW 008, Bejen, Karanganyar

Solopos, 20 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top