Es Teh Palembang

Kisah menggelikan sekaligus ngisin-isini ini dialami Jon Koplo, warga pendatang dari desa yang belum lama tinggal diKartasura. Suatu hari, istrinya yang nyidham memintanya membelikan empek-empek Palembang. “Tukune neng warung dhaerah Pabelan,” jelas istrinya, Lady Cempluk.

Koplo langsung ho’oh ho’oh saja dan segera meluncur ke warung empekempek yang sak jeg jumbleg baru kali inilah Koplo membeli makanan asal Palembang itu. “Mbak, beli empek-empek dua dibungkus ya. Es tehnya satu diminum di sini,” pesan Koplo kepada Gendhuk Niciole, si penjual.

Tak lama kemudian segelas es teh pun sudah terhidang. Berhubung hawanya ngorong, dalam sekejap segelas es tehitu pun ludes, hanya tersisa es batunya. Karena masih haus, Koplo berniat untuk tambah satu gelas es teh lagi. Tetapi ketika akan meminta tambah, Koplo dekatnya ada sebuah teko, “Wah, sing dodol jan pangerten.

Rasah nembung wis dicepaki jok nggo tambah,” batin Koplo bungah. Tanpa ba bi bu Koplo segara menuangkan teko berisi cairan cokelat itu ke gelas, lalu meminumnya. Tapi baru satu sruputan, Koplo langsung gebresgebres merasakan es tehnya yang manis campur asin campur gurih.

“Mbak, teh di teko ini rasanya kok asin?” tanya Koplo pada Gendhuk. Mendengar pertanyaan itu sang penjual malah ngguyu kepingkelpingkel. “Oalah Mas-Mas… Itu bukan minuman teh, tapi saos empek-empek. Warnanya memang sama, tapi rasanya beda,” terangGendhuk. Koplo hanya bisa pringaspringis kisinan.

Krisnanda Theo Primaditya,
RT 004/RW 019 No 15 B
Mojosongo, Solo

Solopos, 21 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top