Nasib Nasi Kebuli

Jon Koplo, mahasiswa universitas negeri di Solo yang sedang menggarap skripsi, beberapa hari terakhir hanya makan lauk tahu-tempe. Ia sengaja ngirit karena akhir pekan nanti bercita-cita ingin membeli nasi kebuli seharga Rp35.000 seporsi di rumah makan Arab yang baru saja buka di dekat kampusnya. Akhir pekan pun tiba. Jon Koplo membeli nasi kebuli dibungkus supaya ngirit enggak usah beli minum.

Sampai di tempat kos, ternyata sudah ditunggu teman kelasnya, Tom Gembus. “Plo, jadwal asistensi skripsimu maju. Ayo lek ndang, selak telat! Pak Dosen selak mulih,” ujar Gembus sambil nggeret tangan Koplo. Dengan perasaan kemrungsung, Koplo meletakkan plastik berisi nasi kebuli itu di meja depan kamarnya, lalu bergegas berangkat ke kampus. Sepulang dari kampus, Koplo langsung mencari nasinya di meja depan kamarnya, namun sudah tak ada.

“Cari apa, Mas Koplo?” tanya Lady Cempluk, sang ibu kos, saat melihat Koplo kebingungan. “Apa Ibu tadi lihat bungkusan plastik di sini, Bu?” tanya Koplo. “Oalah Mas, saya pikir itu tadi bungkusan bekas makanan, hla kan biasanya sampah bungkus makanan ditaruh meja situ, jadi ya saya buang ke tempat sampah,” jawab ibu kos polos. Celakanya, setelah ditinjau di tempat sampah, posisi bungkusan nasi itu sudah diuruk sampah lain. Jon Koplo yang sudah ngintirintir langsung kliyeng kliyeng pengin semaput. “Tiwas direwangi ngirit jajan seminggu…” keluhnya.

Sari Puspita Dewi,
Tirtomarto RT 003/RW 001
Pengging, Boyolali 57373

Solopos, 28 Agustus 2013

Tinggalkan Balasan

Back to Top