Tiwas ngenyang

Suatu hari, Jon Koplo disuruh bapaknya nyervis jok sepeda motor ke Proliman Banjarsari karena tukang servis yang ada di dekat rumah Koplo hari itu sedang tutup.

Sewaktu menunggu, tiba-tiba Koplo merasa perutnya keroncongan karena tadi pagi belum sempat sarapan.

Kebetulan di samping Koplo ternyata ada warung yang jual nasi gudeg bungkus. Sayangnya, Koplo baru ingat kalau dompetnya ketinggalan di rumah, karena saking kesusu- nya, hanya uang Rp 40.000 dari bapaknya tadi yang ia bawa. Padahal susuk servis jok nanti tentu hanya tersisa sedikit saja.

Berhubung selak lapar, Koplo mencoba bertanya berapa harga nasi gudeg bungkus itu dulu, karena khawatir duitnya kurang.

”Yang pakai telur Rp 3.500, tapi kalau yang pakai suwiran ayam Rp 5.000, Mas,” sahut si ibu penjual nasi.

Dengan pertimbangan uangnya ngepres banget, Koplo tak ragu-ragu untuk menawarnya.

”Yang telur Rp 2.000 boleh, Bu?”

Ibu penjual itu mulanya kaget, baru kali ini ada pembeli yang berani menawar dagangannya. Tapi setelah lama memandangi wajah Jon Koplo, ibu itu pun tersenyum lalu mengangguk.

”Ya sudah, Mas, nggak apa-apa.”

Senang berhasil menawar nasi gudeg itu, Koplo langsung ambil satu bungkus nasi plus telur, lalu dimakannya dengan lahap. Tapi lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba ibu
itu bertanya, ”Njenengan daleme Bibis, putrane Bu Cempluk, taMas? Saya sering lihat njenengan nggoncengke Bu Cempluk ndherekke ten pasar lhe.”

Koplo kaget setengah mati. Ia tak menyangka kalau si penjual itu ternyata kenal dengan ibunya.

”Wadhuh, jadi pekewuh nih. Tahu begini mending tadi nggak usah ngenyang. Bikin malu ibunya saja,” sesal Koplo.

”Rumah saya juga di Bibis kok, Mas. Cuma jualannya saja di Banjarsari sini,” cerita ibu itu. ”Biasanya tiap arisan PKK pasti ketemu sama ibu njenengan.”

Mendadak saja selera makan Koplo langsung lenyap. Kalau tidak ingat sepeda motornya masih diservis, ingin rasanya dia buru-buru membayar lalu langsung ngibrit pulang.

Kiriman Sri Suharti,
Jl Maramis No 37, Nusukan, Solo 57135.

Solopos,18 Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Back to Top