Es penyet

Sudah beberapa hari Jon Koplo yang masih duduk di kelas IV SD ini hidungnya sentrap-sentrup terus. Tapi walaupun sedang pilek, anak Lady Cempluk yang tinggal di Kartasura ini tetap ngluyur dolan dengan teman-temannya.

Agar pileknya tidak tambah parah, Cempluk melarang Koplo jajan es. Seperti biasa, selesai bermain dengan teman-temannya, Koplo langsung pulang. Di tengah jalan ndilalah ia ketemu penjual es krim keliling. Saking kemecernya, Koplo menyetop tukang es krim itu dan membeli satu bungkus. Karena takut ketahuan ibunya, Koplo menyembunyikan es itu di kantong belakang celananya.

Sampai di rumah, ia berjalan berjingkat- jingkat takut konangan ibunya. Namun akhirnya toh Cempluk tahu juga kalau anaknya sudah pulang. ”Kamu sudah pulang, Plo?” sapa Cempluk sambil mendekati Koplo.

”Sudah, Bu. Aku mau mandi dulu,” jawab Jon Koplo sambil berjalan mundur meninggalkan ibunya.

Kelakuan Koplo ini membuat Cempluk sedikit curiga, tapi dia tak mau ambil pusing dengan tingkah laku anaknya yang nganeh-anehi itu. Nah, karena terlalu konsentrasi menjaga es krim di kantong agar tidak ketahuan sang ibu itulah Koplo tidak sadar kalau di belakang ada undhak- undhakan. Maka akibat berjalan mundur itulah Koplo terjatuh dengan sukses dengan posisi terduduk.

Cempluk yang melihat Koplo terjatuh langsung menghampiri anaknya. ”Kamu nggak apa-apa Plo? Makanya, kalau jalan jangan mundur,” kata Cempluk sambil membantu anaknya berdiri.

Nah, saat memegang bokong Koplo itulah Cempluk merasa bagian tangannya basah dan dingin. Ketika dilihat, ternyata celana Koplo sudah belepotan es krim. ”Kamu itu kok ngeyel ta, Plo! Dilarang beli es malah sembunyi-sembunyi. Itulah akibatnya!” omel Cempluk.

Koplo yang sudah telanjur konangan cuma diam saja, sementara sang ibu melanjutkan ”pidato”-nya.

Kiriman Ahmad Zunita,
Sumbulan Kidul RT 03/RW I3, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Solopos,20 Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Back to Top