Lho kok beda?

Jon Koplo, pemuda lugu dari pelosok desa yang mencoba peruntungan bekerja di Kota Solo, suatu hari bertemu Tom Gembus, teman SD-nya yang sekarang sudah menjadi wong sugih.

Mereka berdua pun ngobrol ngalor-ngidul membahas kenangan masa lalu, termasuk ngrasani Lady Cempluk, teman perempuan yang rupanya masih ditaksir Jon Koplo. Kabarnya, Cempluk sampai sekarang memang masih jomblo.

Dasar Jon Koplo terkenal bandel dan nekat, dia ingin sekali menelepon sir-siran-nya itu untuk sekadar melepas kangen. Makanya ia memberanikan diri meminjam PDA phone milik Tom Gembus yang kebetulan memiliki nomor HP Cempluk.

”Sebentar Plo, aku ke toilet dulu,” pamit Gembus.

”Lama juga boleh kok, Mbus. Akutak mesra-mesraan sama yayangku dulu,” jawab Koplo cengengesan. Tom Gembus hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut dan langsung ke toilet.

Satu menit, dua menit, sampai 15 menit berlalu. Jon Koplo tampak masih terbengong-bengong di kursinya. Tangannya keringatan dan clingak-clinguk sajak kebingungan.

Lalu Tom Gembus datang dan heran melihat PDA phone-nya tergeletak di atas meja.

”Lho Plo, kok sudah teleponnya? Katanya mau mesra-mesraan?” kata Gembus sambil mengecek PDAnya dan memeriksa pulsa yang terpakai.

”Lho kok nggak berkurang blas? Nggak jadi telepon ta?”

Sambil terbata-bata Koplo menjawab, ”Aku ora ngerti carane kok Mbus. HP-ku sing neng ndesa kae ora kaya ngene kok. Kuwi ora enek pejetane.”

Tentu saja Tom Gembus ngguyu ngekek melihat ke-katrok-an sahabatnya itu.

”Plo, ini namanya PDA layar sentuh, menggunakan stylus sebagai pengganti keypad atau pejetan. Ya wis, berarti durung bejamu nelpon yayangmu, he-he-he-…” ledek Tom
Gembus. Jon Koplo cuma plenthas-plenthus kisinan.

Kiriman Windya Pramita Sawitri,
Sumber RT 02/RW 13, Jl Pajajaran No 3, Sumber, Banjarsari, Solo 57138.

Solopos,24 Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Back to Top