O, gratis ta?

Setiap mengunjungi saudaranya yang ada di Yogya, Lady Cempluk yang tinggal di Sragen kulon ini selalu wira-wiri naik bus ekonomi sehingga ia hafal betul dengan strategi pedagang asongan yang sering beroperasi di dalam bus.

Biasanya pedagang itu memberikan barang dagangannya dulu kepada para penumpang, kemudian kembali lagi untuk menarik dagangannya yang tidak dibeli atau meminta uang kepada penumpang yang membeli barangnya.

Sekali waktu, Lady Cempluk pengin ngrasakke naik bus Patas. Makanya begitu sampai di Terminal Tirtonadi, ia langsung menuju ke pangkalan bus Patas jurusan Yogya. Kata teman- temannya, kacek sithik kalau naik bus Patas jauh lebih enak, lebih cepat, tur suwejuk karena full AC.

Setelah menunggu beberapa saat, bus yang ditumpangi Cempluk pun berangkat meninggalkan terminal. ”Wah, penak tenan numpak bus AC,” batin Cempluk saat berada di dalam bus.

Setelah kondektur menarik ongkos, sampai di Delanggu giliran kernet bus berjalan dari depan ke belakang untuk membagikan air mineral gelasan ke masing-masing penumpang, tak terkecuali Lady Cempluk yang sedang theklak-thekluk mengantuk. Begitu dilungi minuman, Cempluk segera merogoh dompetnya dan menunggu orang yang ngelungi minuman tadi lewat lagi. Dan begitu kernet bus itu berjalan ke depan, Cempluk langsung memanggil, ”Pak… Niki artane…!” katanya sambil mengulurkan uang lima ratusan. ”Arta menapa Mbak?” tanya Pak Kernet.

”Arta kangge mbayar minuman,” jawab Cempluk dengan lugunya.

”Oh, niki fasilitas saking PO kangge penumpang kok Mbak. Gratis, mboten mbayar,” ucap Pak Kernet sambil ngampet guyu.

”Ooo, nyuwun ngapunten, Pak. Lha kula mboten ngertos kok,” balas Cempluk sambil ngampet isin karena jadi pusat perhatian para penumpang.

Kiriman Niken Kurniawati,
Ngrendeng RT 22, Kaloran, Gemolong, Sragen 57274.

Solopos,8 Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Back to Top