Sabun horor

Namanya saja anak-anak. Kalau sebagian orang dewasa takut dengan orang yang sudah meninggal, anak-anak justru sebaliknya. Begitu juga dengan Jon Koplo, anak TK asal Matesih, Karanganyar. Ketika ada kematian di rumah Tom Gembus, tetangganya, Koplo dan teman- temannya justru asyik nonton jenazah yan dimandikan tanpa rasa takut sedikit pun.

Setelah upacara memandikan jenazah selesai, Koplo dan temantemannya bagai mendapat sebuah doorprize. Sabun bekas untuk memandikan jenazah itu jadi bahan rebutan.
Dan akhirnya, Koplolah yang mendapatkan sabun itu.

Senangnya bagai seorang juara. Koplo membawa pulang sabun itu dengan rasa bangga. Ditaruhlah sabun itu di tempat sabun kamar mandi rumahnya.

Waktu bakda Magrib, Lady Cempluk sang ibunda Jon Koplo mempertanyakan sabun siapa di dalam kamar mandi itu pada Koplo.

”Le, sabun neng njero kamar mandi kae apa duwekmu?”

”Iya, Buk,” jawab Koplo polos.

”Sing oleh saka ngendi Le?” tanya Cempluk.

”Saka ngomahe Pakdhe Gembus Bu,” jawab Koplo enteng.

”Hah? Apa sing dienggo ngedusi wong mati kae mau?”

”Ha’a,” jawab Koplo mengiyakan sambil senyum-senyum tanpa dosa.

Gendhuk Nicole, kakak Koplo yang kebetulan sedang mandi dan mendengar pembicaraan itu langsung girap-girap ketakutan di dalam kamar mandi. Pasalnya, posisi sabun itu sedang dioles-oleskan ke badannya. Nicole segera meraih handuk, kemudian lari keluar dari kamar mandi. Napasnya terengah-engah karena panik. Ia tidak mau melanjutkan mandinya. Sementara Koplo masih saja tampak tidak merasa bersalah. Sedangkan Cempluk
hanya cengar-cengir melihat ulah kedua anaknya.

Kiriman Budi Setiyarso,
Gondang RT 02/RW VIII. Karangbangun, Matesih, Karangnyar 57781.

Solopos,12 Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Back to Top