Maunya Ngeceng…

Olahraga, memang penting untuk kesehatan. Bahkan bagi sebagian remaja, tidak kalah pentingnya adalah nyambi refreshing dan cuci mata, seperti yang dilakukan oleh Lady Cempluk dan Genduk Nicole yang masih tercatat sebagai siswi SMA Negeri favorit di Solo ini. Untuk melakukan joging, Cempluk dan Nicole tidak terima kalau hanya melakukannya di lapangan atau di sekitar rumahnya, di daerah Sumber. Tempat yang ideal bagi mereka adalah di Manahan.

Sore itu, dengan berdandan secantik mungkin Cempluk menjemput Nicole dengan motor barunya. Nicole pun juga sudah menunggu dengan dandanan yang tak kalah nyetil dari temannya. Mereka berdua langsung berangkat ke tempat yang dituju. “Nduk, parkir kene wae ya? kata Cempluk sambil memar­kir motornya di depan sebuah wartel. Selesai memarkir motor, me­reka berdua memulai aktivitas jogingnya sembari ngobrol nga­lor ngidul sambil tebar-tebar pesona. Ternyata target me­reka kena, setidaknya para “kumbang” banyak yang menggoda.

Maklum, mereka ada­lah gadis-gadis yang kecantikannya tak ada yang meng­alahkan selain kemayu-nya. Setelah dirasa cukup lelah, keduanya pun memperlambat larinya dari berjalan me­nuju parkiran dan berenca­na untuk pulang. Sesampai di parkiran, Cempluk berge­gas mengambil motornya. Ta­pi tiba-tiba wajah cantik Cem­pluk mendadak pucet. “Nic, kowe ngerti kunci mo­torku ora?” tanya Cempluk panik. “Ya embuh, aku ora nger­ti. Mengko gek njiglok?” ja­wab Nicole. “Wadhuh, hiya! Kanthong­ku bolong kik?” Cempluk tam­bah panik sambil gogoh-go­goh saku celananya.

Mau tidak mau mereka terpaksa harus napak tilas ke tempat-tempat yang sudah mereka lewati, termasuk wa­rung yang tadi mereka sing­gahi. Akan tetapi ternyata hasilnya nihil. bahkan cempluk pun sudah berusaha menelepon rumahnya berharap ada kunci serep. Tapi lagi-la­gi, usaha ini pun juga sia-sia. Mas-mase tukang parkir mem­beri iguh, menyarankan un­tuk mencongkel lubang kun­ci karena motornya dikunci stang. Tapi Cempluk eman-eman karena motornya ma­sih mambu dealer. “Mbak, jalan satu-satunya ditumpakke becak saja,” usul seorang tukang becak me­manfaatkan situasi.

Merasa terpojok dan tidak ada jalan lain, mereka pun mengiyakan. Akhirnya dengan dibantu mas-mase parkir dan tukang becak motor Cempluk pun nangkring dengan manis di atas becak. Dan dengan ter­paksa, Cempluk dan Nicole ikut naik nyekeli motornya bi­ar tidak lecet oleh becak. Wa­jah yang tadinya cerah ceria penuh canda tawa itu kini ber­ ubah 180 derajat, jadi abang ireng, mrengut, njegadul, wis ta pokoke hueliiik ngana kae … Becak pun berjalan pelan­-pelan … Eeeng-iiing-eee … ng!

Kiriman Lilik Suryani,
Sum­ber,JI Pajajaran Utara I

Solopos, 2 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top