Kolektor karcis KA Prameks

Sahabat yang paling akrab bagi Lady Cempluk adalah Kereta Api Prambanan Ekspres (Prmeks). Loh kok bisa? YA, karena Prameks-lah yang selama ini setia menemani mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta itu mudik ke Solo tiap pekannya. Cuma sayangnya, Cempluk mempunyai kebiasaan buruk yaitu selalu menaruh bekas karcis Prameks di kantong depan tas ranselnya. Entah berapa puluh karcis yang selama ini berkumpul di sana.

Dan Cempluk sama sekali tidak punya keinginan untuk merapikan, membereskan, bahkan membuangnya. Nah, gara-gara karcis itulah ia sempat di buat malu di atas kereta. Siang itu Cempluk sudah stand by di Stasiun Lempuyangan, hendak mudik ke Solo. Begitu Prameks datang, orang-orang saling berebut untuk masuk. saat itu udara terasa panas, pengap, penumpang uyel-uyelan, wis ta pokoke nggak nyaman blas. Tidak sesuai dengan status kereta yang katanya kelas Bisnis.

Saat kereta mulai meninggalkan Yogya, Pak Kondektur mulai memeriksa karcis. Masing-masing penumpang merogoh kantung celana, sa­ku baru, dan t5as untuk mengambil karcis. Ketika kondektur menghampiri Cempluk, Cempluk malah mbingungi dhewe. Pasalnya, ia lupa dimana ia menaruh karcis. Tambah bingung lagi ketika ia membuka kantong depan tas ranselnya, badala … di kantong itu terdapat sak ombyok karcis yang ngendon di situ.

Mau tidak mau Cem­pluk harus mencari mana karcis yang berlaku, semen­tara sang kondektur dengan setia menungguinya. Melihat kebingungan Cem­pluk, Pak. Kondektur mem­beri waktu untuk mencari kar­cis itu dan berjanji akan kem­bali Iagi. Rasa kemrungsung pun sedikit berkurang. Agar lebih rileks, ia pun mencari karcis sambil duduk di lan­ta1i kereta. Semua karcis di­keluarkan dari kantong ran­selnya. la tak mempedulikan penumpang lain yang mulai cekikik’an melihat ulahnya. Karcis-karcis bekas itu diu­rutkan sambil melihat tang­galnya yang kadang tidak ter­lalu jelas.

Saat Cempluk nje­jer-njejer kards itulah ada mahasiswa yang nyeletuk, “Mbak, kalau mau main do­mino mbok ngajak-ajak biar ­rame gitu lhoh, mosok main sendiri?” karuan saja celetukan itu memancing tawa penumpang lain hingga membuat wajah Cempluk merah merona akibat kisinan. Dan apesnya, ternyata karcis Prameks untuk hari itu tidak ditemukan. Cempluk pun pasrah. Saat kondektur datang lagi ia terpaksa mbayar dobel. Sudah begitu, masih juga ada yang nyeletuk, “Mbak, tiketnya tadi di serahkan ke kepala Stasiun saja, siapa tahu dapat hadiah satu gerbong kereta ha-ha-ha…” Apeeees…apes!

Kiriman
Diatri Andrini, Jl Cipto Manungkusuma51, Banjarsari, Solo.

Solopos, 30 Januari 2008

Tinggalkan Balasan

Back to Top