Sirah kok di-Tilang

Jon Koplo adalah seorang duda beranak empat yang semuanya sudah mentas, sehingga anak-anaknya sudah tidak lagi tinggal di rumah yang terletak di daerah bibis baru, Sekitar bantaran kali Anyar, Solo. Karena sudah tidak ngopeni anak itulah maka kehidupan Koplo semakin meningkat, sehingga ia mampu membeli sepeda motor baru.

Singkat cerita, setelqah sekian hari KOplo memiliki sepeda motor dan mengendarai ke mana-mana, semua tetangga pada heran, kenapa Koplo tidak pernah memakai helm. Salah satu tetangga Koplo sebut saja Tom Gembus, suatu saat sempat menanyakan. “Mas Kolo, nuwun sewu mau tanya, Panjenengan kalau naik motor kok tidak pernah memakai helm, apa tidak takut kena Tilang?” Tanya Gembus. “He … . he … he … ndhak papa kok Mas, Polisi sak Solo ini pasti kan maklum,” jawabnya mantap.

“Ah tenane Mas? Mas Koplo pernah ketangkep polisi?” tanya Gembus heran. “Ya belum. Mudah-mudahan ndhak pernah. Tapi jangan kuatir Mas Gembus, aku pasti aman,” jawab Koplo still yakin. Ndilalah beberapa hari kemudian, Koploadasuatu urusan di Wonogiri dan ia butuh seorang teman. “Mas Gembus, mbok tolong sayaditemani ke Wonogiri, nanti mbonceng saya, tapi jangan lupa pakai helm,” pintanya. Dalam hati Gembus gumun, “Kenapa yang mbonceng harus pakai helm, sedang yang mboncengke malah tidak pakai? Ah, masa bodoh, aku hanya diajak, risiko biar Koplo yang tanggung.” berangkatlah mereka menuju Wonogiri.

Ndilalah tiba di daerah Gladak ada mokmen. “Nah, ini dia, Koplo kena batunya!” Batin Gembus. “Selamat siang, Pak, tolong surat-surat..” Pak Polisi memeriksa surat-surat kendaran Koplo. “Terimakasih, surat-surat Bapak lengkap, tapi maaf terpaksa Bapak saya Tilang karena tidak memakai helm.” “Tunggu dulu Pak Polisi. Bukanya saya tidak mau pakai helm, tapi to long dipirsani dengan cermat. Saya sudah ke mana-mana cari helm yang bisa saya pakai, tapi tidak pernah menemukan helm yang seukuran dengan kepala saya yang agak istimewa ini,” terang Koplo. Setelah memperhatikan ukuran kepala Koplo, Pak polisi itu malah senyam-senyum sendiri.

Bahkan secara demonstratif Koplo mencoba pinjam beberapa helm dari pengendara lain untuk membuktikan ucapanya, Ternyata semua helm yang dicoba tidak ada yang bisa menampung kepalanya. Kalaupun bisa paling hanya mingklik-mingklik. “Ya sudah. sekarang saya maklum kalau Bapak tidak pakai helm. Silahkan jalan, tapi hati-hati ya. Besok pesan sama pabriknya yang ukuran super jumbo,” seloroh Pak Palisi. Melihat kejadian itu Tom Gembus juga cikikik’an dhewe. la sendiri heran kenapa selama ini tidak memperhatikan ukuran kepala tetangganya yang nggembelo itu.

Kiriman Saptono,
Bibis Baru RT 05/RW 23, Solo 57135.

Tinggalkan Balasan

Back to Top