Mari, silakan ngece

Meski bergelar master dan menjabat sebagai manager di kantornya, Lady Cempluk, warga sebuah perumahan elite di kawasan Solo ini memiliki kebiasaan yang membuat Jon Koplo, suaminya, uanyeeel tenan. Penampilannya cuek bebek dan ogah merawat diri. Mana tubuhnya gendut, kulitnya kusam lagi, karena jarang diolesi bedak, apalagi lulur. Pakaiannya pun sering tidak sesuai dengan statusnya.

Sehari-hari di rumah ia hanya memakai daster yang sudah kluwuk. Boro-boro memakai parfum, bisa mandi teratur saja sudah lumayan. Kebiasaan itu bertolak belakang dengan Jon Koplo yang selalu klimis, rapi, wangi dan ga-ya. Bahkan dengan pembantunya pun Cempluk kalah besus. Genduk Nicole, sang pembantu, meski berasal dari kampung dan hanya lulusan SMP, namun kulitnya putih bersih, wajahnya menarik, bertubuh langsing dan pakaiannya pun selalu rapi.

Nah, suatu hari Cepluk terkena batunya. Saat mereka libur, Jon Koplo pagi-pagi sudah ribut. “Bu, bosku yang baru sama isterinya mau berkunjung ke rumah kita. Ayo siap-siap. Masak yang enak!” perintah Koplo. “Aku saja yang masak, biar Nicole momong,” jawab Cempluk. Pagi itu Cempluk pun bersibuk ria olah-olah di dapur. Dan Seperti biasa, ia tampil kluwuk dengan daster kucelnya. la juga belum sempat mandi. Keringat yang dleweran, membuat penampilannya kumes-kumes, jauh dari menarik.

Pada saat ia hampir menyelesaikan pekerjaannya mendadak terdengar bunyi bel. Cepat-cepat Cempluk keluar membuka pintu. Ternyata Tom Gembus, bos Koplo dan isterinya telah datang. “Mari, silakan masuk,” Cempluk mempersilakan dengan hormat. Tom Gembus dan isterinya mangangguk. Sikap mereka dingin. Pada saat itu, Genduk Nicole keluar, sambil nggendhong si kecil. Anehnya, mendadak sikap pasangan bos itu berubah hangat. “Ooo, ini ta, isterinya pak Jon Koplo. Wah, cantik tenan. Pas sekali sama Pak Jon Koplo yang juga ganteng!” puji Nyonya Gembus.

“lya ya. Kok Pak Koplo tidak pernah cerita kalau punya isteri cantik,” sahut Tom Gembus. Genduk Nicole bengong, sementara wajah Cempluk merah padam. “Ngapunten … Sa … saya bukan nyonya. Saya pembantu di sini! Nyonya Jon Koplo yang itu,” kata Genduk Niqole sambil menunjuk ke arah Cempluk. Kini giliran Tom Gembus dan isterinya yang merah padam. Mereka tampak salah tingkah. “Aduh mohon maaf, Jeng,” sahut Nyonya Gembus, “Saya kira … panjenengan itu … ” “Sst … !”buru-buru Tom Gembus njawil isterinya. Namun sudah paham apa yang akan diucapkan Nyonya Gembus. “Oh, tidak apa-apa. Mari, silakan duduk!” ujar Cempluk sambil tersenyum kecut.

Kiriman Yeni Mulati SSi,
JI Anggur VII No 36 C,
Jajar, Laweyan, Solo.

Solopos, 6 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top