Tamu tak dikenal

Beginilah jadinya kalau prinsip ekonomi diterapkan dalam suatu hajatan. jal itu terjadi pada pernikahan Lady Cempluk, karyawan sebuah pabrik di Kota Bengawan yang dipersunting oleh jon Koplo, Satpam pabrik tersebut.

Walau dengan dana yang minim tur mepet banget, mereka berdua berharap sumbangan tamu bisa lebih besar dari biaya pernikahan alias balik modal, syukur-syukur bathi. “Dik Cempluk, teman-teman pabrik nggak usah dikasih undangan satu-satu, cukup di-‘halo-halo’ lewat mikrofon saja. Selain ngirit undangan tur yang datang bisa banyak,” usul Koplo. “Wah ide bagus, Mas,” sambut Cempluk.

Keesokan harinya, Koplo menemui Tom Gembus, kepala bagian personalia di ruang kerjanya. “Begini, Pak. Saya mau minta tolong kepada Bapak untuk mengumumkan kepada seluruh pekerja di perusahaan ini, bahwa saya dan Cempluk mengundang mereka ke resepsi pernikahan kami besok tanggal sekian-sekian…” pinta Koplo.

“Oke, baiklah kalau begitu,” jawab Gembus. Dua minggu kemudian, rresepsi pernikahan pun berlangsung sesuai rencana. Tapi sorenya, tepat pukul 16.30 teman-teman kedua mempelai pun nggruduk datang. “Lho… lho… kok yang datang banyak sekali?” bisik Koplo kepada Cempluk dengan panik karena mereka hanya mempersiapkan 100 porsi hidangan buat teman-teman pabrik.

Anehnya, ternyata banyak tamu yang tidak dikenal oleh kedua mempelai. Satu persatu teman-teman kerja menyalami mempelai, tiba-tiba giliran Tom Gembus. “Pak Gembus, kok banyak tamu yang tidak kami kenal?” protes Koplo semakin panik, takut jumlah hidangan tidak mencukupi. “Lha katanya suruh mengundang seluruh karyawan perusahaan, sebagian tamu itu bekerja dari beberapa cabang perusahaan kita,” jelas Tom Gembus.

“Matrih aku!” jawab Koplo sambil ngeplak bathuke dewe. Apa yang dikhawatirkan Koplo dan Cempluk pun terjadi. Jumlah hidangan yang disediakan ternyata tak mencukupi, bahkan sebagian tamu hanya mendapat segelas teh saja. Di pabrik, kedua mempelai itu menjadi buah bibir layaknya para selebritis.

Kirimian Aji Puji Nugroho,
Munggung RT 01/RW 02, Gilingan,
Banjarsari Solo 57134.

Solopos, 8 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top