Genduk Nicole Van Paijem

Di suatu siang yang panas kencar-kencar Jon Koplo tampak duduk di kursi sebuah halte di jalan protokol Kota Solo, menunggu bus kota sambil udut klepas-klepus. Tiba-tiba datanglah seorang gadis berusia sekitar 25 tahun mendekatinya. Kulit gadis tersebut berwarna cokelat tua, rambutnya hitam dan kriting pating kruwel. Namun ketika melihat dandanannya Koplo merasa heran, geli campur aneh.

Bayangkan saja, Iha wong cewek itu hanya memakai kaos tank top, atau you can see warna merah nyolok mata. Kaos yang dipakainya juga terlihat methethet, sehingga semua orang bisa bebas melihat wudel-nya. Tak hanya atasnya, bawahannya juga memakai celana gojag-gajeg yang tidak kalah seksinya. Lalu kakinya yang sudah sedikit gosong terbakar sinar matahari itu memakai sepatu bot kayak yang sering dipakai oleh
Pak Hansip ketika sedang dapat jatah ronda di kelurahan.

Tangan, leher, dan kupingnya pun juga tak mau kalah. Disitu banyak, bergelantungan beraneka macam gelang, kalung, anting dan aksesori lain Pating crenthel dengan warna yang tidak jauh berbeda, sama-sama ngejreng. Semula Koplo menduga ia adalah seorang wanita penjaja kenikmatan alias PSK yang sedang lembur di siang hari. Namun ternyata dugaan Koplo meleset jauh. Cewek berwajah ndesa namun berpenampilan aduhai itu hanya menanyakan jalur bus yang melewati Stasiun Balapan.

Melihat logat bicaranya, Jon Koplo sansaya gumun. Masalahnya, cewek tersebut bicara dengan bahasa jawa ngoko, sehingga terkesan ora duwe sopan santun babar blas. Lebih nggumunke lagi, bahasa jawanya juga sangat aneh di kuping Koplo. Kata siji di bilang sitok, kemudian sirah juga diucapkan dengan kata endhas. Meski artinya sama, namun terkesan sangat kasar dan norak. Pokoke ora ana unggah-ungguhe sakipit-ipit-a. Ngomongnya pun juga ceplas-ceplos langsung nyosor kaya bebek ngana kae.

Tapi setelah beberapa saat berbicara dan ngobrol dengannya, barulah Koplo dapat jawaban atas semua kegumunannya. Ternyata cewek tersebut adalah wisatawan dari Suriname yang masih keturunan Jawa asli! Juris Jawa itu bercerita kalau mbah buyut-nya berasal dari Cilacap. Untuk lebih meyakinkan, ia menunjukkan paspor dan visanya, Dalam kartu identitas itu tertulis nama Genduk Nicole Van Paijem Sastrodikromo.

Genduk Nicole Van Paijem Sastrodikromo langsung ngguyu ngakak ketika Jon Koplo menerangkan kalau sekarang ini di Jawa nama Pajem sudah tidak ada lagi, soalnya terkesan sangat ndesa. Genduk Nicole justru menjawab kalau ia sangat bangga mempunyai nama itu. Berkata begitu sambil tak lupa ia menawarkan ampyang kacang serta intip goreng dan lentho yang katanya baru saja dibelinya dari pasar. Tapi belum juga Koplo menyambut tawaran itu, bus kota jurusan stasiun keburu datang. Genduk Nicole Van Paijem Sastrodikromo pun buru-buru berpamitan sambil meloncat ke pintu bus. Jon Koplo hanya bisa gedhek-gedhek…

Kiriman Joko Utomo,
Kratonan RT 04/RW 01,
Serengan, Solo 57153.

Solopos, 9 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top