Tak kira gratis…

Pagi itu, seperti biasa Jon Koplo, seorang karyawan bagian keuangan di sebuah perusahaan ekspotir garmen, ditugaskan ke sebuah bank terkenal di Solo untuk menukarkan uang Yen Jepang ke dalam bentuk rupiah. Sebelumnya Koplo sudah menghubungi pihak bank untuk membicarakan kurs yen ke rupiah. Setelah disepakati harganya, maka segera saja Koplo menuju ke bank tersebut. Sampai tempat yang dituju, Koplo segera mengambil nomor urut ke kasir vaias. Hari itu ndilalah pas banyak nasabah yang sedang antre. Jon Koplo mendapat nomor urut 20, kemudian duduk di kursi yang telah disediakan.

Sambil menunggu panggilan ke kasir, Koplo melihat kiri kanan. Tiba-tiba matanya tertuju pada setumpuk koran yang berada di atas meja keamanan. Wah, kadingaren. Bank ini menyediakan koran untuk nasabah. Biasanya tidak,” Koplo cuma mbatin. “Pak, pinjam korannya ya?” katanya kepada seorang Satpam. Namun belum sempat dijawab, mak clemut, Koplo sudah mengambil sebuah koran terkenal di Kota Solo. Koran itu dibacanya, dibolak-balik, ditudang-tuding… wis ta pokoke ketok asyik ngana kae. Ekspresinya pun macam-macam. Kadang tersenyum, mengernyitkan dahi, manggut-manggut, malah tak jarang berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala, Sesekali matanya melihat kearah kasir.

Hampir setengah jam Koplo membaca koran, namun nomor antreannya belum di panggil juga. Rupanya Koplo tak sadar kalau sedari tadi ada sepasang mata mengawasi segala tingkah laku dan gerak-geriknya. Tiba-tiba saja seseorang sudah ada di samping tempat duduk Jon Koplo. “Nuwun sewu Mas. Korannya jadi dibeli apa tidak? Saya menunggu sampean hampir setengah jam lho! Kalau tidak dibeli, akan saya iderkan ke yang lain,” kata Tom Gembus, si pengasong koran dengan muka mbesengut.

“Oh, maaf. Saya tidak tahu, Mas. Saya pikir koran ini plo membaca koran, namun buat nasabah. Tadi saya juga sudah minta izin Pak Satpam,” kata Koplo beralasan. Mendengar kata-kata Koplo, Pak Satpam pun ikut nimbrung, “Saya tadi mau bilang sama Bapak bahwa koran ini milik Mas Tom Gembus, tapi tahu-tahu Bapaksudah mengambil koran itu dan kelihatannya asyik membaca.” Keruan saja keributan kecil taqi memancing perhatian nasabah lain yang pada ngguyu pating cekikik. Kalah isin, Koplo pun terpaksa membeli koran itu meskipun sudah khatam membacanya. “Yah, lumayan buat menyembunyikan muka,” begitu barang_kali yang ada dibenaknya.

Kiriman Suluh Nugroho KU,
Perum Tiara Ardi RT 05/X,
Blok CC-49 Purba­yan, Baki, Sukoharjo.

Solopos, 24 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top