Dikira lelembut

“Taksi!” teriak Tom Gembus kepada salah satu sopir taksi yang mangkal di daerah Kerten. Kebetulan tempat Gembus turun dari bus asal Jakarta itu merupakan pangkalan taksi. “Jalan saja, Pak. Nanti saya tunjukkan jalannya,” tambah Gembus kepada sopir taksi yang di bajunya tertulis nama Jon Koplo. “Baik Pak… silakan naik.” jawab Jon Koplo sambil membukakan pintu belakang mobil.

Dengan perasaan lega Gembus pun menghempaskan tubuhnya ke jok belakang. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Solo. Nicole sayang, sambutlah kedatangan Abang… ” batin Gembus dengan wajah berseri-seri meski seharian tidak mandi. Ya. Setelah dua tahun merantau di Jakarta, Tom Gembus yang asli Solo ini sudah menjadi orang yang bisa dibilang hidup berkecukupan.

Maka ia memberanikan diri pulang kampung dengan maksud Untuk melamar Genduk Nicole, sang pujaan hati. Pagi-pagi sekali Gembus berangkat dari Jakarta menuju Kota tercinta, Solo. Ndilalah jalanan dari Jakarta sampai Semarang banyak kemacetan di sana-sini. Belum lagi bus yang ia tumpangi ndadak nganggo kebanan barang. Terpaksa ia sampai di Solo dini hari.

Tidak ada kendaraan umum selain taksi, lagi pula rumah Gembus masih jauh dari jalan raya. “Lurus, Pak … Ya, perempatan belok kiri . . . ” begitu aba-aba Gembus menunjukkan jalan. Jon Koplo menuruti saja perintah Tom Gembus. Tapi lama-kelamaan Koplo agak merinding karena jalan yang ia lewati adalah sebuah tempat pemakamah. Kebetulan untuk mendarat di rumah Tom Gembus memang harus melewati salah satu kuburan besar di Solo.

Bulu kuduk Jon Koplo mulai berdiri ketika lampu mobil nya menyorot ke depan dan dari kejauhan yang tampak adalah sebuah tembok. “Wadhuh. .. jalan buntu ! Jangan-jangan yang naik taksiku dudu menungsa,” batin Koplo. Saking takutnya, taksi langsung di rem dan Koplo menoleh ke belakang, mengamat-amati wajah Gembus, jangan-jangan telah berubah wujud, bukan manusia tapi sebangsa lelembut. Entah kenapa tiba-tiba saja Jon Koplo ngewel ketakutan.

“Pak … eh, Mbah … Mmm … maaf, tolong jangan ganggu saya, Mbah. Silakan turun dari mobil. .. Ndhak usah mbayar ndhak apa-apa, Mbah,” kata Koplo dengan wajah pucet. Kontan saja Tom Gembus malah kaget, lha wong kasare paling prongkol kaya ngene kok dikira lelembut. “Ya sudah, kebetulan,” batin Gembus karo ngempet ngguyu, padahal rumah Gembus nggak jauh lagi, tinggal belokan di depan yang dibatasi tembok, terus lurus kiri sudah sampai “Untung juga punya rumah dekat kuburan, bisa naik taksi gratis,” gumam Gembus sambil pringas-pringis ngguyu dhewe.

Kiriman Imam
Wicaksono,
Galiran RT01/RW
07, Baleadi, Sukolilo, Pati.

Solopos, 10 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top