Tiwas protes…

Peristiwa menggelikan sekaligus memalukan ini dilakoni oleh seorang anggota DPRD salah satu kabupaten di Soloraya, sebut saja Jon Koplo. Ceritanya, suatu hari Koplo mendapat tugas kedewanan di Jakarta. Dengan semangat 45, Koplo pun siap mengemban amanah. Apa lagi semua biaya akomodasi sudah dianggarkan oleh Dewan alias ia tak perlu merogoh kocek sendiri. Syukur-syukur anggarannya turah. Yang lebih membanggakan lagi sarana transportasi yang dipakainya adalah montor mabur yang seumur-umur ia belum pernah merasakan menaikinya.

Tiketnya pun tidak baen-baen, Kelas eksekutif bo’! Singkat cerita, siang itu Jon Koplo sudah stand by di Bandara Adisumarmo, sesuai di Banjad¬≠¬≠wal keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi. Pesawat pun juga sudah stand by menunggu penumpang baru yang akan diangkutnya. Sebetulnya Koplo canggung juga berada di tempat yang belum pernah di rambahnya itu. Namun ia tak mau orang lain tahu ke-ndesit-annya. Dengan gayanya yang cuek bebek ia tak malu-malu bertanya ke petugas perihal proses berangkatan termasuk pesawat mana yang akan dinaiki.

“Pesawat tujuan Jakarta dengan nomor penerbangan GA sekian-sekian-sekian segeraa diberangkatkan. Kepada para penumpang dipersilahkan untuk mempersiapkan diri…” begitu bunyi”halo-halo”yang mengumandang diseluruh penjuru ruangan. Koplo pun bergegas mengikuti para penumpang lain menuju pesawat. “Selamat siang, Pak. Bisa saya periksa tiket Bapak?” sapa seorang pramugari yang bernama Lady Cempluk dengan masuki ramah pintu ketika pesawat. Koplo memasuki pintu pesawat. Koplo pun memberikan tiket yang dimaksud untuk diperiksa.”Oooh, Bapak duduk dikelas eksekutif. Mari, saya tunjukan tempat duduknya,” lanjut Cempluk. Mendengar.penjelasan itu, Koplo malah bengong, bahkan setengah protes.

“Lho, apa ndhak salah Mbak, saya kan anggota dewan, duduk di legislatif, kenapa ditempatkan dieksekutif?” tanya Koplo serius seolah tanpa dosa. Kontan saja ucapan Koplo yang buanter itu membikin calon penumpang lain pating cekikik menahan tawa. Namun Cempluk dengan setengah ngempet guyu memberi penjelasan, “Ini kelas di pesawat kami Pak, tidak ada hubungannya dengan legislatif atau yudikatif”. “Ooo, begitu ta? Baiklah. Tapi tempat duduknya jangan di belakang ya, saya takut kalau jalannya nggronjal.” Kali ini Cempluk tak kuasa menahan tawa. Dalam hati ia bertanya, “Bapak ini sebenarnyamau ndhagel atau memang Kuper sih?”

mus

Solopos, 22 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top