Entuk tikus gedhe

Meski tidak ngingu tikus, Jon Koplo yang tinggal di perumahan daerah Colomadu ini dibuat uring-uringan dengan tikus-tikus yang sering berseliweran di rumahnya. puncaknya di Bulan Puasa lalu, ketika satu-satunya ikan hasil pancingan sehari suntuk yang akan dipakai untuk lauk makan sahur amblas tanpa bekas diembat “den bagus”.

Saking jengkelnya Koplo sengaja membeli perangkap tikus dan memasangnya. umpannya pun tidak baen-baen, yakni kepala ayam goreng utuh sak gulune. Perangkap itu dipasang di lorong jalan ke kamar mandi yang biasa dilewati tikud-tikus itu kalau masuk kerumah Jon Koplo. Sambil menunggu hasil dari perangkap yang dipasangnya itu, Jon Koplo duduk menikmati acara tipi.

Sementara Lady Cempluk, isterinya, ngeloni Tom Gembus, anaknya yang masih Balita. Setelah Gembus tertidur, Cempluk keluar dari kamar dan melihat lampu ruang tengah masih menyala, pertanda suaminya masih melek. Cempluk lalu melangkah menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun ketika melewati lorong dan melihat perangkap tikus disana, tiba-tiba ia berhenti.

Perangkap tikus baru itu diperhatikannya. Melihat kepala ayam goreng utuh dipakai sebagai umpan, Cempluk merasa eman-eman. “Sakjane rak ya cukup secuwil wae,” batin Cempluk. la lalu mendekati perangkap tikus yang berujud jekrekan dari besi itu. Dipegangnya jekrekan itu pelanpelan. Cempluk bermaksud mengambil umpan itu untuk dicuilnya. Hati-hati sekali Cempluk mencoba melepas umpan itu.

Namun tiba-tiba … makjekrek … !!! “Adhuhhhh … Pak, tuluuung … !” jerit Cempluk. “Biarkan saja Bu … Biar mati dulu … ndhak usah ditulungi!” jawab Koplo dengan santai, mengira yang kena jekrekan itu tikus betulan. “Kok biar mati piye ta Pak … ? Wong sing kejekrek iki aku!” seru Cempluk. Makjenggirat, Koplo langsung berlari menolong isterinya yang tangannya berdarah dalam keadaan masih kejepit jekrekan tikus.

Kiriman Drs Djoko Slamet,
Kleben, RT 01/RW 08, Gedongan,
Colomadu, Karanganyar
57173.

Solopos, 12 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top