Maunya sih Jaim. . .

Lady Cempluk yang sudah kuliah di PTN top markotop di Solo ini suatu saat ketemu teman-teman SMU-nya dulu. Dengan berlaga sok Jaim alias jaga image, lalu dia bermaksud nraktir ketiga sohib kentalnya, yakni Genduk Nicole, Tom Gembus, dan Jon Koplo ke sebuah warung steak yang sedang mengadakan promosi diskon 50% untuk setiap menu.

“Mumpung lagi diskon, sak porsi dadi telungewunan. nek dhobel ya mangewunan. Murah tur ora ngisin-ngisini dienggo nyuguh,” begitu batin Cempluk. Berbekal uang Rp 50.000 dikantongnya, Cempluk memesan empat porsi dobel steak ayam yang harganya aslinya 10 ribu. Tak cukup itu, ia juga memesan 3 porsi lagi dobel steak sapi untuk dibawa pulang.

Maunya sih Kirmah alias mikir omah. Ia udah ngetung dan memperkirakan dengan detail kalau habisnya nggak sampai lima puluh ribu. Artinya, kalau bayar pakai eketan ewon masih entuk jujul. Setelah selesai makan dan ngobrol, dengan langkah PDnya. Cempluk menuju kasir. Cempluk langsung menyerahkan uangnya tanpa melihat nota ataupun harga yang tertera di mesin penghitung.

“Maaf, mbak, kurang Rp 25.000,” kata Mbak kasir. Lady Cempluk kaget bukan main. “Lho, Mbak, kok aneh men ta? Kan didiskon? Tadi sudah tak hitung-hitung sendiri, nggak sampai lima puluh ribu ribu kok,” jawab Cempluk setengah berbisik. “Betul, Mbak. Kalau yang dimakan di sini memang habisnya 45 ribu. Tapi tiga porsi yang dibawa pulang harganya tetap normal. Yang di diskon itu yang dimakan sini thok. Programnya seperti itu,” jelas Mbak kasir secara gamblang dan cuetha tur banter sampai beberapa orang pengunjung mendengarnya termasuk teman-temannya.

Cempluk langsung kelimpungan ngana kae. Apalagi setelah mengetahui tiga porsi yang dibawa pulang tidak bisa dibatalkan pesanannya karena terlanjur dibungkus. Akhirnya dengan terpaksa Cempluk pinjam uang ke Genduk Nicole. “Sudahlah, nggak usah utang wong aku juga ikut makan,” kata Genduk Nicole yang disambut senyum kecut Lady Cempluk.

Kiriman Esti Suci A,
Gajahan RT 02/RW II,
Solo 57115

Solopos, 15 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top